Aku tak pernah suka dengan gadis-gadis macam itu. Iya, mereka cantik, tapi kepala mereka hanya penuh akan kehidupan materealistis yang telah dirancang oleh sistem pasar bebas. Seolah hidup hanya soal uang dan uang, lalu perkuliahan pun hanya mereka habiskan untuk bersengkongkol menyelesaikan tugas belaka. Kosong, mereka tak pernah ada di ruang akademis. Aku mungkin bisa menahan gerutu ini jika mereka ternyata punya kepedulian lain, tapi juga tidak, hanya diri mereka dan sanak rekan di kanan-kiri yang mereka pedulikan saja.
Dan dipertemukanlah aku dengan wanita yang punya karakteristik serupa. Dia memang punya selera busana yang baik, tapi sebenarnya berada pada sub-tema yang tak begitu masuk dalam selera. Iya, dia memang cantik, tapi aku merasa akan ada beberapa momen yang out of place dengan dia di sana.
Dia seorang muslim, aku bisa bernapas lega di situ. Dia pun ayu dan tahu bagaimana cara menonjolkan kecantikan itu. Beberapa teman mungkin akan tak setuju denganku dan menganggap wanita itu biasa saja, tapi hey, apa sih yang kalian harapkan? Saoirse Ronan tiba-tiba begitu saja datang menyukaiku? Tentu mustahil. Setidaknya aku tahu dia tak masuk dalam golongan yang bisa disebut buruk rupa. Itu sudah cukup dan dia pun tahu cara berdandan. Belum lagi rambutnya yang dicat merah menyala.
Bagaimana ya... Mungkin aku bisa menyebutnya punya visual cunty dan bitch. Tentu bukan dengan kontasi yang menghina.
Aku kembali bisa bernapas lega saat tahu dia juga suka membaca buku. Dia juga meminjamkanku "Laut Bercerita"-nya Leila Chudori. Aku terkesan pada hal itu. Tapi dia tampak tak punya kesadaran untuk melakukan apresiasi secara akademis kepada hal-hal yang digemarinya. Membaca ya sebatas membaca, seru, tapi tak lantas melakukan sintesis pada isu-isu terkini atau apa yang sekiranya layak diobrolkan.
Si Wanita ini juga merupakan seorang yang begitu empiris. Kehidupannya lebih banyak dibentuk dari kerja-kerja-kerja. Bukan berarti aku mendiskreditkan, tapi sekali lagi ada disparitas antara cara kami memandang dunia. Dari situ juga dia tampak sebagai seorang yang apolitis dan aku pun tak bisa memaksakannya untuk terjun ke hal yang aku inginkan.
Aku yakin kami bisa akur, tapi aku takut kami akan begitu cepat kehabisan obrolan karena tak nyambung.
Dua pertemuan sudah kami lalui dan aku senang berbincang dengannya, tapi aku masih tak berani untuk kemudian sekadar memikirkan masa depan dengannya.

0 komentar:
Posting Komentar