Selesai sudah. Setelah sekian hari hingga menit, pikiran tak karuan memikirkan bagaimana kelak ia akan diselesaikan, akhirnya aku dinyatakan lulus pada tanggal 11 kemarin. Berpegang TA di tangan, aku hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para penguji di ruangan.
Di luar, kawan-kawan sudah menunggu. Beberapa sekedar datang, yang lain membawakan hadiah. Kami banyak mengambil gambar, merayakan kelulusan yang belum resmi itu. Namun biar dikata demikian, perasaan bahagia tetaplah terasa benar untuk dinyatakan.
Lompat ke beberapa hari kemudian, aku kini duduk di kamar kosan yang kian tak karuan karena sesak dengan hadiah pemberian. Euforia kebahagiaan sudah bukan jadi barang yang bersisa, seluruhnya lenyap ditelan waktu yang terus menagih progresivitas kehidupan. Yang tumbuh darinya justru adalah kontemplasi atas hal-hal yang kutulis dalam lembaran berisi hampir 10.000 kata itu.
Barangkali aku hendak memulainya dengan menyebut bahwa hal-hal di dalam TA bukanlah suatu yang patut dirayakan. Ketika sidang, kritik yang muncul dari dosen penguji adalah perkara pemahaman level dasar pada contoh tentang adjectival phrase dan polysemy. Keduanya berakhir disalahkan dan aku diminta merevisi. Tentu tidak masalah.
Namun selepas itu, aku lalu menyadari bahwa pemahaman dan cara belajarku selama ini cukup kacau. Alih-alih coba mematangkan pada konsep struktur kalimat level awal, aku langsung lompat pada penjelasan-penjelasan besar dari De Saussure dan Buhler. Menurutku selain diberi koreksi oleh dosen penguji, akibat lain paling kentara adalah bahwa argumenku akan relatif mudah dipatahkan apabila lawan bicara paham bahwa fondasi yang kumliki tak lebih dari tiang lapuk penuh karat.
Yah, apapun itu, setidaknya ku juga sedikit berbahagia bahwa goodhart's law juga bisa diterapkan dengan benar. Bahwa momen sidang adalah waktu untuk mengukur kemampuan selama tiga tahun ke belakanga, alih-alih sebagai tahapan ukuran nilai yang justru menjadi tujuan itu sendiri.
Intinya, masih ada yang perlu diperbaiki dari pemahaman pribadi. Terutama pada ranah bahasa. Tujuannya tentu adalah agar diperolehnya kepuasaan akan ilmu yang telah diperoleh untuk kemudian menjadikannya sebagai sebuah rasa haus baru. Semoga saja bisa.
Yowes ngono wae.

0 komentar:
Posting Komentar