Pacaran masih menjadi hal yang misterius di usia yang sudah memasuki angka 21 ini. Tentang berduaan; menghabiskan waktu bersama hingga berjam-jam lamanya; dan memiliki orang lain yang secara sosial dipandang sah untuk dijadikan pelampiasan ekspresi (termasuk yang kadang agak tabu); serta hal-hal yang lain, itu semua adalah hal yang selama ini hanya bisa dibayangkan di dalam kepala atau hanya jadi tontonan semata.
Sebagai individu yang belum bisa berdiri sendiri, perasaan untuk memiliki seorang pacar pada akhirnya menjadi sebuah keinginan besar dan beberapa kali saya melihatnya layaknya urgensi (ini serius). Ditambah lingkungan pertemanan dipenuhi mereka yang sudah punya pacar dan kerap bermesraan di depan mata, seolah ada validasi bahwa inilah jalan keluar untuk rasa kesepian selama ini.
Namun dengan kemampuan bertahan hidup saya yang cetek; keahlian bersosial tingkat rendah; dan-tentu saja-muka yang sama sekali tidak atraktif, tidak ada satu pun wanita yang tertarik untuk jadi pacar saya. Jangan salah, saya sudah melakukan beragam cara pedekate, dari yang halus tingkat alam bawah sadar (seperti pesan subliminal elit global) sampai yang membabi-buta sekali pun, semuanya tidak ada yang berhasil. Bahkan salah satunya pun pernah saya tulis di sini.
Barangkali Tuhan melihat rasa frustasi saya dan memutuskan memberikan saya kesempatan merasakan sensasi pacaran. Akhir Oktober lalu, kebetulan tersedia sebuah waktu luang dan diputuskanlah untuk mengisinya dengan mendatangi seorang teman perempuan di Semarang. Pertemuan ini murni hanya bersifat sambutan karena sebelumnya kami hanya berinteraksi secara daring dan teman saya ini juga baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa setelah sekian lama. Tidak ada niat untuk kencan atau apa lah itu. Meski begitu, tentu saya tetap berdandan dan mengenakkan parfum terbaik.
Dan setelah melalui perjalanan tiga digit kilometer, saya sampai di depan kos nya (setelah sebelumnya istirahat di kamar kos kawan, thanks mate!). Meski sempat bingung dengan posisi masing-masing, tapi kami pun dipertemukan dengan dia yang mengenakan sweater krem dan parfum paling harum yang pernah saya hirup.
Kami pun melakukan perjalanan hingga dua digit kilometer dengan motor. Tidak banyak obrolan yang kami lakukan di atas lalu lintas, diam menjadi bahasa yang mengisi suasana selain derungan kendaraan. Akhirnya sampailah kami di tempat tujuan, sebuah angkringan yang terletak di atas bukit dengan pemandangan kota metropolitan dari atas. Orang sekarang menyebutnya city light dan saya menyebutnya sebagai sajian polusi cahaya.
Jujur saja, saya memiliki prasangka buruk bahwa obrolan malam itu akan menjadi canggung mengingat pengalaman-pengalaman saya sebelumnya dan sebetulnya kami pun tidak pernah terlibat dalam obrolan yang benar-benar intens lewat discord maupun telepon. Dan menit-menit awal obrolan memang seolah hendak mengarah kesana, sebelum akhirnya setelah serangkaian percakapan-ditambah saya yang berusaha tampil adanya- berhasil membuat obrolan menjadi begitu cair.
(Simulakra itu benar adanya. Baudrillard, sialan kau!)
Titik utamanya ada ketika kami memutuskan untuk menghubungi teman daring lain lewat video call. Berhubung kami memang sebelumnya tergabung dalam grup pertemanan internasional sehingga banyak berinteraksi dengan bahasa Inggris, jadilah obrolan VC itu juga menggunakan bahasa yang serupa dan berlanjut hingga pada obrolan di ruang nyata bernama angkringan pada malam itu. Bayangkan, nyaris tiga jam lamanya kami berbicara dengan bahasa Inggris! Bahkan kami bisa mengobrol banyak hal!
Hingga akhirnya kami pun menutup obrolan itu dengan unggahan foto berdua, sebagai wujud pretensi bahwa kami tengah berpacaran (saya memang sudah memberi briefing kepadanya agar foto itu tampil layaknya kencan antara dua orang kekasih agar teman-teman rese saya tertipu). Namun begitu, dia pun tak keberatan bila pertemuan malam itu dianggap kencan, saya pun hanya mengiyakan dalam hati.
Selepas malam itu, tiada timbul rasa suka yang menggebu-gebu dalam hati seperti yang sudah-sudah. Barangkali akibat pengalaman-pengalaman sebelumnya atau memang akibat teman saya satu ini masih dalam hubungan (meski di ambang putus), bisa juga karena memang saya tak berusaha mendekorasi perasaan suka kepadanya? Ah, entahlah. Intinya memang saya masih memandangnya sebatas teman.
Meski begitu, lagi-lagi memang obrolan malam itu begitu menyenangkan dan ada bumbu-bumbu yang sedikit romantis yang hadir di dalamnya. Barangkali inilah alasan mengapa masyarakat Barat yang tak begitu memiliki sekat dalam interaksi kemudian terjebak pada dikotomi-dikotomi baru soal hubungan. Ada friends with benefit lah, friendenemy lah, one night stand lah, dan lain sebagainya. Kalau boleh saya ambil satu, mungkin teman dalam nuansa obrolan intim (atau sekadar super menyenangkan) bisa jadi opsi.
Ternyata begini yang dirasakan muda-mudi dalam status pacaran itu. Bahkan mungkin obrolan kami malam itu lebih intens daripada beberapa pasangan di luar sana.
Ada perasaan lega yang muncul mengingat bahwa itulah sensasi yang selama ini saya cari. Anehnya, selepas itu pun saya menganggapnya sekadar angin lalu. Memang menyenangkan, tetapi tidak begitu butuh amat, bahkan menonton timnas atau Persija pun masih terasa jadi kebutuhan primer dibanding ini.
Mungkin setidaknya ini bisa jadi standar minimum untuk kriteria pasangan saya yang cocok kelak. Waduh, kok jadi semakin susah saja...

0 komentar:
Posting Komentar