Bercermin dengan Membaca


Ketika Narcissus hanya melihat refleksi keindahan wajahnya, dia lalu terjebak dalam pemujaan berlebihan atas keindahan yang dimilikinya dan mengabaikan sifat "narsistik" yang timbul karenanya. Hanya orang lain, dalam hal ini lebih banyak merujuk pada pembaca ceritanya, yang kemudian menyadari perilaku menjijikan Narcissus.

Di lain cerita, dan lain semesta, Martin Walker baru saja memandang puing-puing peradaban kota Dubai. Tidak ada yang tersisa selain lolongan kematian akibat segala hal "heroik" dari perjalanannya untuk memberi hukuman kepada Konrad yang sebenarnya hanyalaha manifestasi dari penyesalannya sendiri. Bila pemain memilih opsi untuk membiarkan Walker dalam delusi dan penilaian palsunya, maka hanya para pihak ketiga, termasuk pembaca ceritanya, yang (lagi-lagi) menyadari perilaku menjijikan seorang Sersan Martin Walker.

Kemudian, di semesta yang lebih nyata lagi, dengan berisi mereka para pencipta cerita-cerita ini, gejala yang sama bisa saja terulang. Pada titik ini, pola yang sama juga akan tercipta, hanya pihak ketiga yang bisa menyadari busuknya perilaku mereka. Namun demikian, pola yang sama ini juga menghadirkan para pelaku yang dengan segala ego nya kemudian tak mengacuhkan adanya sudut pandang ketiga. Sama seperti Walker yang memilih untuk tenggelam dalam delusi lebih dalam.

Pun saya sebagai salah seorang individu dimensi keempat juga kerap terjebak dalam kondisi yang sama. Delusi atas tindakan tepat saya dan kemudian berakhir menyadari kesalahannya beberapa pekan kemudian atau bahkan lebih lama. Ego yang saya punya pun justru kerap kali memperburuk suasana dengan menambahkan bumbu-bumbu seolah tindakan kita sudah tanpa cela.

Bilamana di titik ini saya harus berbicara mengenai sudut pandang ketiga, jujur sebagai orang yang cemen, saya belum begitu banyak meminta orang lain untuk menilai saya. Namun begitu, baru-baru ini saya menyadari metode baru untuk menemukan sudut pandang ketiga itu dengan tanpa menyakiti ego kecil milik pribadi secara langsung. Yakni dengan "membaca".

Sebelumnya, membaca disini bisa didefinisikan lebih luas, seluas eskalasinya yang kini lebih dikenal dengan sebutan "literasi".

Oke, kembali lagi. Jadi hal ini muncul sebagai realisasi di benak ketika saya membaca buku kumpulan esai karya Puthut EA berjudul "Bola Liar" yang isinya berupa tulisan-tulisan random dari keseharian kepala suku Mojok itu. Sebagaimana keseharian kita tak jauh dari membicarakan individu lain, satu-dua tulisan disini pun juga ikut serta di dalamnya. Sialnya, dengan eksplorasi ala Puthut EA, tentu ghibah si orang ini juga cukup analitik dan berakhir cukup nyelekit. Lebih nyelekit lagi ketika menyadari bahwa ceritanya kok sama persis dengan yang saya alami.

Maka begitulah. Saya perlahan dituntut untuk menyadari bahwa ada kesalahan fatal yang saya buat, lewat bacaan esai tadi. Tak butuh pencerahan dari lisan orang lain, agak lama tapi ya... dapat juga kan?

Sudahlah, begitu saja. Saya tadinya berencana untuk mengaitkan dengan Iqro' nya Malaikat Jibril dan lain sebagainya tapi keburu malas. Dan juga, sepertinya saya masih butuh banyak baca menyeluruh seperti sindiran di esai Puthut EA.

Yasudah.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram