Kumpulan Kesadaran

Ada banyak momen yang menimbulkan kesadaran dalam hidup. Misal yang terbaru adalah membaca tulisan Eka Kurniawan, yang menyadarkan saya betapa payahnya diri ini dalam memilih diksi dan judul dibandingkan beliau. Ada juga momen-momen lain seperti ketika teman-teman yang perlahan mendapat pekerjaan, sedangkan saya tidak kunjung mengajukan lamaran secepat mereka. Dan tentu masih banyak lagi.

Saya pikir kesadaran memang penting. Hadirnya jadi momen untuk memperluas cakrawala kehidupan dan menemukan sisi-sisi yang kerap kali terabaikan. Mindfullness kata Santoso Adji Putro. Ah, rasanya menulis nama beliau juga menimbulkan kesadaran akan perasaaan berdosa, bahwa saya selama ini tidak betul-betul menyimak ajaran beliau, hanya mendengar dari tuturannya di podcast Mojok. Mengetik tulisan ini saja mengulang kesadaran yang telah disebut, perkara payahnya pemilihan diksi. Setidaknya ada 5 kali saya bolak-balik mengganti satu baris kalimat karena sadar bahwa pilihan kata yang dipakai begitu jelek.

Hmm, sekadar berpikir pun rupanya juga membawa banyak kenangan kehidupan, yang isinya juga tak jauh-jauh dari kesadaran. Yang paling terulang tentu ada pada kesadaran bahwa saya begitu payah dalam interaksi sosial, dari 180 pertemuan, mungkin hanya 1 yang akan menghasilkan teman, selebihnya hanya pertemuan canggung. Saya punya banyak pertimbangan (dibaca:sungkan). Berkali-kali bacaan tentang komunikasi saya tamatkan, tapi hasilnya nihil, saya masih nampak sebagai orang yang gagu dan payah dalam berinteraksi. Mungkin akibat intonasi yang buruk dan muka macam orang jahat jadi faktor utama.

Oh ya, saya juga baru ingat tentang salah satu episode serial Black Mirror yang berjudul Nosedive. Itu tontonan bagus yang menimbulkan kontemplasi menarik, barangkali mencerahkan. Namun soal itu, saya sadar bahwa mungkin lebih baik diceritakan di tulisan lain.

Di titik ini, saya sadar bahwa tulisan ini mulai kehabisan ide. Barangkali karena penulis sendiri juga kekurangan pengetahuan sehingga tak bisa menambahkan gagasan? Entah. Tapi baru saja saya menjeda sekitar 10 menit, melihat-lihat halaman LinkedIn untuk kemudian sadar bahwa ada banyak hardskill yang tak saya miliki dan seharusnya saya tekuni sejak 3 tahun yang lalu. Payah memang.

Masih di nuansa tulisan yang sama, saya juga sadar bahwa kehidupan kian membosankan. Hobi tidak lagi memberi gairah dan rasanya semua pekerjaan sulit untuk dicapai. Semua sektor penerjemah hanya ingin orang yang andal dalam bahasa Mandarin, sedangkan saya tidak; dan semua lowongan jurnalis juga hanya berpusat di Jakarta, kenapa harus selalu di kota yang semrawutnya minta ampun itu? Pusat informasi? Entahlah.

Saya kini tengah bingung untuk mencari tujuan baru dalam hidup. Rasa-rasanya kalimat "kerjakan dahulu, jangan tunggu motivasi" seharusnya bisa jadi pegangan, tapi toh pekerjaan yang asal dikerjaan, apa bisa mengantarkan kita ke arah yang lebih baik? Atau hanya berputar-putar saja? Tidak tahu.

Sampai sini, saya lantas sadar bahwa tulisan ini barang tentu bukan jadi bacaan menyenangkan, bahkan untuk penulis itu sendiri. Ini hanya kumpulan curhatan yang jadi pretensi analisa kehidupan dan dibuat seolah-olah estetik padahal hanya berisi -1(!U(#()!. !()!U#)!J#)!#()*#!!! !!#*# !*(


!@@*)!@@@@^&#*)_!


0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram