Karena saya kerap kali insecure apakah satu hari berakhir bermanfaat atau tidak. Saya pikir perlu ada catatan tentang hal-hal yang telah didapatkan dalam satu hari itu. Outputnya adalah pengetahuan, sebab saya percaya bahwa diri ini adalah insan pembelajar.
Rambutku rontok cok, nek ora nulis ngenean.
JUNE
30: Belajar speaking dan menyampaikan humor bareng Balakarta, dapet motivasi juga dari Balakarta, belajar penulisan "di mana".
JULY
1: Belajar soal preposition of place. Hari ini belajar dikit banget dan saya lebih banyak tidur zzz.
2. : Baca berita dan riset kecil-kecilan. Budi Arie si menkominfo ternyata anggota persma waktu di UI, kocak. Baca berita juga soal PPDB, ada kelebihan kuota dan miskonsepsi di masyarakat. Gw sempet mau belajar soal tipe teks, tapi akhirnya lebih review ke kesalahan Inggris gw selama ini. Kenapa jadi make gw dah?
3: Anjeng, gw lupa belajar apa. Tapi ada kok keknya belajar sesuatu. Keknya lebih ke riset tulisan di Mojok sih. Oh, mungkin dapet feedback soal tulisan gw (itu aslinya kemarin sih). Apalagi yak. Lebih banyak gawe sih. Cuman malemnya emang ada kajian dari Millah Abraham soal firman. Materinya masih ngendok soal definisi Tuhan. Sama beneran cok mereka mewajibkan solat tahajud.
4: Saya belajar soal komunikasi, kali ini sumbernya dari video Youtube. Pertama, membahas tentang paradoxical intention buatan Viktor Frankl. Kedua, bahas tentang cara ngomong sama orang biar nyambung. Malamnya, saya baca sedikit soal buku RJ Salatun tentang piring terbang. Agak terkekeh, ketika melihat Salatun di tahun 1960 percaya di Mars ada pohon dan hewan setingkat beruang, bisa saja maksudnya beliau bukan itu sih, soalnya baru sampai di halaman-halaman awal. Lihat nanti lah.
5. Baca lagi bukunya RJ Salatun buat nyari topik alien di Alor. It's so crispy. Dilanjutin riset kecil-kecilan tentang angkutan umum di Temanggung. Ternyata ojol sempat dilarang di tahun 2017.
6: Hari tergokil bulan ini, TAIII. Ketemu sama seorang gento preman dan mafia sini, trus dia ngajak kenalan waktu saya lagi duduk di taman kota. Percakapan yang ngeri-ngeri-sedap, dia mau ngasih info kalau dibeliin minuman keras dulu. Huhu, selamat tinggal 100 ribu demi dapat info soal narasumber. Dia ngomong kalau suka sama saya dan bakal jadi bekingan. Sejujurnya dibanding bahagia, malah merinding sih.
Selain praktek komunikasi langsung dan cari inpo, saya belajar sedikit filanesia malamnya. Juga, belajar soal ketentuan liga. Ternyata Jokowi pernah punya kemauan buat revisi aturan pelarangan APBD untuk klub Liga, khusus Liga 3.
7: Pergi ke rumah narasumber. Banyak tahu soal kondisi sepak bola lokal, termasuk filanesia di SSB.
8: Saya kayaknya ga banyak belajar. Cuman dapat info soal medis yang pseudosains dari seorang praktisi pengobatan alternatif, mau skeptis tapi beliau cara ngomongnya meyakinkan dan bisa cocoklogi dengan masuk akal.
9: Sebuah hari untuk mengimplementasikan ajaran hidup yang minimalis dari buku The Joy of Living Less karya Francine Jay. It worked!
10: Nggak sempet belajar, cuman beres-beres dan rapat kerjaan jadi guru bentar (masih belum konek ma orang-orang di lingkungan kerjaan baru ini). Cuman ada berita bagus aja soal kerjaan di malamnya. Seharian juga tidur karena capek berantem dengan pikiran.
11: Nggak sempet belajar lagi, kali ini karena sakit dan ada kerjaan yang kusinggung di hari sebelumnya. Malamnya ditrasnfer setengah juta untuk kerjaan segampang itu, aseek.
12: Baca sedikit buku Seni Hidup Minimalis.
13: Baca ulang tulisan Mas Atfi di laman MJS, lanjutin baca sedikit buku Seni Hidup Minimalis.
14: Presentation Party! Belajar soal keresahan platform OTT film, variety show Korea, dan Lewat Djam Malam. Belajar bercerita kisah nabi.
15: Hari pertama bekerja, belajar mengajar bocil SD. Ketemu Balakarta sorenya.
16: Tidak banyak belajar. Kerja seperti biasa.
17: Sama seperti kemarin. Mulai membaca karya Eka Kurniawan: Corat-Coret di Toilet.
18: Cuti kerja karena ada gawean lain. Pelatihan Trados, mengulang materi kuliah.
19: Masuk kerja, melanjutkan baca Corat-Coret di Toilet.
20: Tidak banyak belajar. Malamnya nongki.
21: Menerapkan ilmu minimalisnya Francine Jay, capek cuy, keluarga susah diedukasi.
22: Hari pertama mengajar, mencari tahu cara belajar di sini. Saya agak kelabakan di awal dan murid masih canggung.
23: Hari kedua mengajar, coba pakai instrumen baru. Gila ndro, anak kelas 3 sudah suruh belajar hewan bertulang belakang. Menyelesaikan Corat-Coret di Toilet.
24: Aduh, lupa lagi ngapain.
25: Sepertinya hanya sebatas hari-hari biasa
26: Sama seperti tanggal sebelumnya
27: Mengunjungi festival literasi di Temanggung, berbicara dengan sejumlah panitia. Membeli kumpulan cerpen sastrawan Asia. Sorenya ke TBP
28: Hari minggu yang diisi dengan belajar soal peradaban desa
29: Masuk kerja seperti biasa, menjadi advokat (cielah) untuk talkshow Balakarta yang gagal
30: Seperti hari-hari biasa. Memainkan Celeste, gim ini sungguh luar biasa indah tapi menjengkelkan!
bagian 31-12 saya skip, tapi jujur ada banyak kegiatan belajar yang terjadi di sini, dari ke ngaji filsafat dan belajar makna kemerdekaan Erich Fromm lalu tentunya belajar di tempat kerja.
Agustus
13: Bekerja dan belajar membuat tetek bengek administrasi
14-20: Lagi-lagi lupa membuat catatan harian ini huhu
20-22: Lupa buat lagi
23: Malamnya kuliah tongkrongan dengan Balakarta
24: Lebih banyak tidur, ga produktif banget, ga belajar apa pun
25: Hampir sama, cuman ketemu Pak Bin(way gampang wkwk) dan dia nawarin kerjaan jadi reporter radio. Aku bilang masih mikir-mikir. Dia juga ceramahain buat kuliah lagi, aku y in aj.
26: Belajar soal bersikap asertif, menarik. Aku jelas ga punya ini.
September
Tanggal 27-12 terlewat. Cukup mengesankan melihat diri ini bisa luput untuk mengisi begitu banyak bagian pada catatan ini. Mari kita rangkum saja bila begitu.
Menjadi dosen untuk kuliah tongkrongan, mulai menggiatkan main bola di sore hari bersama anak-anak sekolah, selebihnya sama. Oh ya, soal Millah Abraham, pada tanggal 12 kemarin juga aku dapat peringatan keras buat ikut perkumpulan mereka lebih sering. Jujur ini big let down, dan aku mulai mempertimbangkan untuk benar-benar keluar dari aliran sesat ini. Meski aku masih bimbang apakah masih ada informasi yang aku dapat dari mereka.
13: Membaca buku tulisan Wu Ganlin dan Deng Xiaobo berjudul "Seni Mendidik Anak Agar Mandiri", cukup menarik dan aku akan membuat rangkuman bab 1 nya di hari ini
14: Berangkat ke kebumen sambil baca buku Sukses Bersikap Asertif
15: Melanjutkan buku yang sama dengan kemarin, keliling Kebumen dan aku berkesimpulan kalau kota ini layak diberikan kesempatan untuk lebih banyak dikunjungi
16: Rejection from others is the biggest fuel, aku mengamini perkataan yang barusan kubuat saat lagi-lagi ide yang aku berikan ditolak
Tanggal 17-28 terlewat. Anjing emang. Mari kita buat rangkuman, ada beberapa hal yang aku pelajarin meski ga rutin.
Mulai mereview caraku berbicara lewat video, emang mbosenin dan monoton, pantes ga punya temen. Aku harus lebih asertif, atau malah agresif sekalian aja kalau ngomong. Lalu aku juga ngedate sama orang dari Bumble, she's cute tapi aku rasa ada jarak yang cukup panjang antar kami, dalam teriakan antar tebing itu, kami menemukan beberapa rumus yang sepertinya bisa dibuat sebagai jembatan penghubung, tapi aku sendiri masih ragu. Dia juga mau stay di Temanggung, aku jelas pengen pergi dari sini. Ah, cuman sekadar bumble date doang kok diseriusin. Tapi rasanya dia mau serius... anjir kegeeran.
Aku masih baca buku yang sama dan gabung komunitas gambar. Yah, gambarku perlu diasah lagi. Aku selalu takjub dengan kenaifan orang-orang di komunitas gambar seperti ini, mereka selalu berbicara seolah ini masih 5 tahun sebelumnya alias saat belum ada AI. Mereka hanya berpikir bagaimana tangan mereka masih bisa mencipta gambar dan untung-untung dapat klien atau jadi seniman.
Oh ya, tulisanku terbit di Terminal Mojok, yeay!
28-30: Betapa waktu cepat berlalu, aku menyesalkan keteledoranku, hah anjing emang.
Oktober
1-8: Yak, mari kita rangkum lagi
Aku mulai dari bagaimana mengajar kelas 5 merupakan kenikmatan yang luar biasa, anak-anak ini lebih pintar dan mudeng. Kemudian, tulisanku ditolak lagi oleh Mojok, bukan masalah. Aku sempat berdebat sedikit dengan orang dari MIllah Abraham, dia menawarkan untuk datang ke tempatnya, aku gugup tiap kali memikirkannya, jelas upaya berikutnya adalah cuci otak secara maksimal. Ahmad Mushadeq saja bisa debat sampai subuh di MUI.
Aku kian akrab dengannya. Jarak antar kami makin jauh, tapi kami masih gemar berteriak dari ujung tebing masing-masing.
Kemudian, aku juga bertekad membuat komunitas.
9-26: Ada gila-gilanya juga nih diri ini tidak bisa konsisten, bahkan sampai berjarak hingga berhari-hari
Aku merasa bahwa bulan ini cukup menyenangkan. Dimulai dari datang ke Festival Mojok dan juga terlibat dalam sejumlah kegiatan (seingatku). Hanya saja, kerjaan juga semakin hectic dan aku pun merasa bahwa pekerjaan ini menyita banyak waktuku. Untuk pertama kalinya, rekeningku tembus 2 juta lewat kerja kerasku sendiri dan aku rasa itu sesuatu yang bisa dirayakan. Meski semakin aku beranjak dewasa, jumlah segitu kok ya terasa masih amat sedikit. Ya, semoga saja segalanya lancar. Aku sepertinya harus mengurangi tidur dan mulai pada kesadaran bahwa hariku benar-benar dihabiskan untuk waktu yang tidak berguna.
27-29: Hari-hari yang hectic, 4 juta pertama di rekening. Oh ya, aku baru saja menamatkan Animal Farm dan damn, buku ini sangat bagus!
30-3: Cukup menyenangkan. Semakin mengenal banyak orang Temanggung dan aku baru saja memberanikan diri untuk yasinan. Fuck it, hidup harus dijalani dengan berani!
4: Pelantikan PTPS. Entah ini merupakan ujian atau rezeki, aku masih kesal dengan para boomer yang otoriter sekali dalam me-manage suatu percakapan, selalu saja soal mereka dan jarang sekali mereka mau bersikap asertif. Dan, aku mikir kedepan selama 3 minggu harus bertemu orang-orang ini tentu akan amat sangat menjengkelkan, sepertinya.
Tapi aku juga ketemu Mas Ucok, dan itu jadi salah satu perbincangan menyenangkan, meski tentu kami harus canggung-canggungan di awal. Balik lagi, ini cobaan apa rezeki??!
30 Desember 2024
Yah, sial. Aku gagal untuk menjadi pribadi yang produktif dan konsisten dalam menulis catatan ini. However, ada banyak hal yang terjadi semenjak "tinta" terakhir yang sudah kering. Aku tidak mood untuk menceritakannya sekarang, barangkali lain kali.
Catatan ini secara resmi ditutup. Sampai jumpa di catatan berikutnya.

0 komentar:
Posting Komentar