Kami bertemu di tempat yang sebagian besar orang mungkin anggap sebagai hal yang ganjil, dating app. Aku mengirimkannya pujian, dia membalasnya beberapa minggu kemudian. Dia begitu baik merespon pembicaraan, kami berbincang lewat daring cukup lama dan dilanjut dengan bertatap muka di bioskop.
Lembaran kami dimulai dari film Seni Memahami Kekasih. Aku suka, dia suka. Kami mungkin juga sepakat dalam diam untuk ikut saling memahami.
Hingga akhirnya terbentuklah hubungan yang makin intens, kami sempatkan untuk bertemu seminggu atau dua minggu sekali. Entah itu di kafe atau tempat lain.
Hari-hari kuhabiskan berada dalam kubangan asmara, ternyata seperti ini rasanya dekat dengan seorang wanita, adakah angan-angan rumah tangga itu akhirnya tidak jadi sekadar angan dan bisa terealisasikan?
Awalnya kupikir demikan.
Namun, yang tak dapat kupingkiri bahwa suntikan sensasi dari pertemuan-pertemuan itu pada akhirnya habis. Aku lantas menyadari bahwa antara dia dan aku berada dalam dunia yang cukup berbeda dan kami berada di minat yang jauh. Seolah ada jurang antar kami dan selama ini kami berinteraksi hanya lewat teriakan satu sama lain.
Apa pantas aku bersamanya?
Bisikan-bisikan itu perlahan mengendap keluar dan nampak kian jelas. Aku lantas mempertanyakan tentang dirinya yang berbusana sederhana itu dan aku yang punya preferensi sebaliknya. Aku lalu mempertanyakan tentang dirinya yang terlalu positif dan naif, sedangkan aku sedang giat-giatnya melawan dan jadi kritis. Aku kiri, dia kanan. Apa kami bisa saling melengkapi? Apa kami ada untuk satu sama lain?
Belum lagi datang sosok lain yang menggoyahkan diriku. Membuatku bertanya-tanya, apa kelak aku akan menyesal sebab terlalu cepat berada dalam hubungan, sebagaimana kawanku yang mengalami hal serupa?
Maka, dalam pertemuan di bawah pepohonan rimbun itu, kuputuskan agar kita untuk tetap pada hubungan pertemanan. Engkau mengiyakan, kami berada dalam obrolan yang tetap baik, tapi aku merasa tak nyaman. Aku berusaha bercanda dengan berpura-pura menyeka air matamu yang tak keluar, tapi secara tersirat ku tengah coba sembari menghapus butiran-butiran kesedihan yang tak terlihat oleh kebodohanku.
Oh, maafkan aku.
Aku pulang dengan rasa sedih, rasa yang terus kupertahankan hingga esok hari dan setelahnya. Apa aku telah membuang sebuah berlian? Apa aku telah menyakiti hati seorang anak manusia? Apa, apa. dan apa yang lain...
Nona Manis Tak Kenal Lelah, begitulah kupanggil dirimu dan memang begitulah apa adanya. Dengan mata jelitamu, engkau tak pernah kemudian berbaring manja di atas kasur kerajaan, tapi engkau putuskan untuk melihat ke sekitar dan coba membantu mereka yang bisa kau ulurkan tangan. Pun, aku tahu bahwa istanamu sudah kacau, hingga kau memutuskan tinggal sendiri, di tempat yang lain.
Seperti penuturanku tempo hari, mari jalani hidup masing-masing terlebih dahulu. Lihat saja kemana arah hidup ini membawa kita berdua. Apakah kelak kita akan tertambat kembali di pelabuhan yang sama? Hanya Tuhan yang tahu.
Aku berdoa semoga Tuhan memberikan segala karunia padamu. Dirimu pantas mendapatkannya.

0 komentar:
Posting Komentar