Aku menulis ini sambil mendengarkan tembang Men I Trust, Tree Among Shrubs. Sebenarnya aku tidak kepikiran melakukan ini, tapi bila tidak ada yang namanya kebetulan, mungkin Tuhan mengarahkanku untuk mendengar lagu ini agar senada dengan topik yang kutulis.
Beberapa saat kemudian, kucari liriknya di Genius. Ah, nggak mirip-mirip amat. Tapi, bisa disambung-sambungin di bagian bahwa kami adalah pasangan orang yang bebas.
Pasangan? Padahal hanya rasa suka yang terjadi sekilas dan kini salah satu dari kami mungkin sudah membatalkannya.
Gadis liar, entah tepat atau tidak aku menamainya. Mungkin kelak akan kuganti. Tapi, aku memang sejak dulu selalu suka menggambar sosok gadis liar. Dia yang berdandan bak artis-artis e-girl, emo, atau skena. Lalu, berbicara dalam bahasa seni, dan tentunya hidupnya kagak jelas. Itulah kenapa kusebut liar.
Dan, kini, berdiri lah seorang gadis liar yang selama ini hanya mampu kugambar dalam bidang dua dimensi. Dia nyata, tiga dimensi, dan jadi wanita pertama yang bisa kuajak nyanyi lagu metal bersama! Oh my god, dream come true, man!
Hanya saja, agaknya kami amat sangat sulit untuk bersama. Aku mengenalnya lewat seorang wanita yang terlanjur suka padaku. Mereka berdua teman dekat. Oh Tuhan, tak mungkin aku rusak hubungan pertemanan mereka.
Pertama, aku memang tak begitu menaruh rasa suka padanya, bahkan saat kami bisa mengobrol panjang di kafe kala itu. Namun setelahnya, beberapa pertemuan kian menegaskan bahwa dia memang sosok yang akhirnya menyita perhatian di seluruh pandanganku.
Apalagi ketika dia memutuskan potong wolf cut, aaakh, hatiku seperti melihat gambaran wanita ideal itu muncul di depan mata.
Berita buruk (atau baiknya). Dia juga pernah berada pada titik ikut menyukaiku. Sialan!
Kembali lagi, hubungan pertemanan itu agaknya memberikan semacam konspirasi busuk pada sebuah percintaanku yang tak ingin dikekang. Aku menduga kalau pesanku yang berbunyi bahwa aku membuka kesempatan pada si Gadis Liar ini disalahartikan, dibelokkan seolah aku tak melihat masa depan dengannya.
Alhasil, si Gadis Liar ini kemudian perlahan menjauhiku. Chat nya hanya berisi dry text yang tak bergairah. Emoji jempol jadi balasan untuk tiap-tiap saranku. Haduuh.
Aku jujur cukup bingung untuk menanggapi kejadian ini. Aku sungguh ingin bersenang-senang selagi memang keduanya sama-sama suka. Membuka kesempatan selagi ombak kehidupan masih belum pasti pergi ke arah mana. Namun, tiba-tiba saja ada upaya konspirasi untuk melakukan blokade itu yang kemudian membuatku malas dan emosi. Ya, ada konspirasi, belakangan rekan kerjaku membocorkan kalau si wanita bermata manis itu secara sistematis telah mengatur agar aku tak bertemu Gadis Liar lagi.
Sial.
Entahlah. Aku mungkin harus ikhlas saja sekarang pada situasi ini. Agaknya kami tak akan pernah bertemu lagi, tetapi KAU MASIH SUNGGUH MEMPESONA, HEI GADIS LIAR!
.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar