Utas Mencari Pujaan Hati: Tuhan Maha Bercanda, Aku Tiba-Tiba Jatuh Cinta Pada Orang yang Salah...

 


Tidak, di atas bukanlah foto dirinya.


Tak berani untuk kucantumkan fotonya di halaman utama blog ini. Yah, selain fakta bahwa aku tak pernah memajang foto asli dari gadis yang pernah dekat denganku, kecuali seorang saja.

Aku mengenalnya lama sekali, dari sebuah UKM kampus saat aku masih berada di Solo. Dia adalah sosok yang kami hormati dan selalu kami nantikan keberadaanya di sekre, sekadar untuk kami ajak mengobrol atau jadi tempat curhat. Tak pernah ada sepintas pun pikiran bagi kami untuk menjadikannya sosok yang sepantaran dengan kami, kami selalu menghormatinya layaknya seorang "ibu" atau "kakak".

Aku pun juga begitu.

Hingga hari kelulusan pun tiba. Kami akhirnya tak bertemu untuk waktu yang lama. Kudengar dia pulang ke Purwokerto atau entah bagaimana detailnya, intinya hubungan kami akhirnya sebatas pemirsa di media sosial masing-masing. Namun, aku selalu mengingatnya sebagai sosok kakak.

Lantas waktu berjalan lebih jauh dan tibalah saat aku berada di Jogja. Entah bagaimana, terpikirkan bagiku untuk kemudian menelponnya beberapa kali, menanyakan nasehat tentang satu-dua hal yang rasanya hanya akan ditanyakan oleh seorang adik kepada kakaknya. Ya, karena begitulah kupandang sosoknya. Sejak dulu, kulihat dia begitu.

Barangkali dari situ kami mulai intens berkomunikasi dan aku pun lantas bersyukur akan hal tersebut. Beberapa kali aku selalu menyemangatinya dan kupakai diksi-diksi manis ala adik laki-laki yang sangat sayang kepada kakak perempuannya. Dia pun mulai melihatku sebagai sosok adik.

Pada akhirnya dia memanggilku "dik" dan betapa bahagianya aku! Aku akhirnya punya kakak! Kakak perempuan! Seisi dunia harus tahu! Selalu kuceritakan tentangnya sebagai orang yang kuanggap sebagai kakak sendiri dan aku membayangkan bahwa kelak aku akan menghadiri pernikahannya dan mengatakan kepada si mempelai pria, "awas saja kalau kamu lukai perasaan kakak kami!"

Namun, ada yang aneh. Kupikir lagi, kenapa kemudian hari-hari sering kali aku kemudian terus memikirkanmu. Kenapa seolah aku selalu ingin mendapat validasi kalau aku masih jadi adikmu? Dan mengapa aku begitu takut kehilangan sosokmu? Apakah yang salah dan adakah yang salah?

Kutanya ke dua orang teman dan jawaban mereka membuatku tercengang. "Sepertinya kau mulai menaruh perasaan kepadanya." Bagaimana mungkin?! Kakakku sendiri?! Aku sebagai adiknya bisa punya pikiran seperti itu?! Bukankah aku selama ini juga tak pernah melihatnya sebagai sosok ideal dan aku selalu insecure melihat tingginya yang lebih dariku sejumlah 5 senti itu?!

Aku jatuh depresi. Dua bulan lamanya kuhabiskan waktu untuk menghilangkan perasaan itu. Kupertanyakan diriku selama ini. Dadaku sakit tiap pagi tanpa bisa kukontrol dan akhirnya aku selalu menangis setiap hari.

Hingga akhirnya, kuterima kemungkinan perasaan bahwa aku mungkin memang menyukaimu dan itu adalah bagian dari cinta sejatih. Bahwa aku kemudian bisa mencintai seseorang tanpa embel-embel fisik atau hobi. Aku melihatmu sebagai "kupu-kupu paling cantik" yang pernah kulihat.

Namun, saat kita kemudian bertemu lagi di hari minggu, di kota Solo. AKu melihat pandanganmu soalku berubah dan ada kekecewaan bahwa kita tak menjadi kakak-adik lagi meski aku tak sebut sepatah kata pun yang mengarah ke arah sana. "Bayar sendiri makananmu sana," ucapmu kala itu.

Di perjalanan kereta, kau tak langsung menanyakan apakah aku mendapat kursi. Ada jeda sekitar dua jam dari pesanmu itu yang biasanya tak perlu menunggu hingga 5 menit, itu yang membuatku yakin bahwa kau kecewa pada diriku. Dan aku pun kecewa pada diriku :(

Asal kau tahu, aku tak sanggup menaruh bayangan dirimu bersamaku setelah pertemuan itu. Ketika kulihat dirimu dari belakang, ketika kudengar ceritamu. Kau yang rapuh itu butuh sosok pengayom yang lebih hangat dari diriku dan jelas bukan akulah orangnya. Aku yang rendah, hina, buruk rupa, dan tak punya penghasilan stabil ini bisa apa? Bermodal cinta? Omong kosong yang nyata.

Dirimu yang primadona pantas mendapat sosok yang lebih, bukan diriku yang ini. Sepanjang kereta berjalan juga bayanganku terus berkata, bahwa dia lebih pantas bersama mas-mas kereta ini, mas-mas kereta itu, bukan denganku.

Aku menangis. Menangis setiap hari. Entah sampai kapan.

Aku telah kehilangan dua sosok. Orang yang untuk pertama kalinya bisa kucintai hingga melihat tahap pernikahan sebagai sesuatu yang ingin kuraih. Dan aku kehilangan sosok kakakku sendiri... Kupikir aku yang membunuh dirimu sebagai kakak, tapi ternyata tanganku inilah yang membunuh sosok adikmu itu.

Kakak Beradik Hijau dari Woolpit. Sebagaimana Cerita itu, Si Adikmu itu Telah Mati Duluan



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram