Utas Mencari Pujaan Hati: Episode Terakhir



Dari sekian tulisan yang aku tulis di blog ini, tak kusangka bahwa bagian ini adalah yang paling menyenangkan untuk dibaca dan ditulis. Rasanya membahas pasangan hidup adalah satu hal yang pada akhirnya memang terasa asyik secara natural. Toh, kata biologi kan tujuan hidup juga cuman bereproduksi bukan? Natsume dengan Harvest Moon Friends of Mineral Town-nya juga baru bersedia mengeluarkan credit scene ketika karakter utama kita resmi menikah.

Tapi, tak kusangka juga bahwa utas ini akan selesai dengan penutup yang cukup klimaks, setidaknya untuk saat ini dan waktu yang lama. Belakangan, aku merasa cukup bejat dengan mendekati berbagai macam jenis perempuan dan merasa tahu akan diriku sendiri, lebih-lebih merasa bahwa aku bisa pilih berbagai macam perempuan di luar sana untuk jadi pasangan hidupku.

Nyatanya, memilih dan mencintai adalah dua kutub berbeda. Mencari pujaan hati dan mencari pasangan untuk diajak haha-hihi (aku hendak menulis ditiduri, tapi rasanya terlalu kasar) juga bukanlah hal yang sama. Aku terlalu bodoh untuk mengkategorikannya dalam definisi yang sama.

Tak lupa bahwa memiliki seseorang dari lawan jenis untuk diajak bicara juga tak selalu berakhir dengan mereka yang jadi pasangan.

Kalimat terakhir itu yang aku sadari pasca aku hampir kehilangan dengan seorang cewek Katolik. 

Jadi ... alkisah, aku menguji keberuntunganku dan rasa sukaku dengan seorang wanita yang memang kurasa cukup menarik. Kudekatilah dengan segala PDKT yang pernah kuterapkan dulu, termasuk dari kesamaan hobi dan respon dari dia pun tidak kalah baik! Aku cukup senang dan merasa kalap, tanganku sudah kukepal dan aku pun meneriakkan "yesss, berhasil!"ke udara.

Hati manusia memang tidak ada yang tahu, mungkin benar bahwa Tuhan memang yang memiliki kuasa atasnya. Tiba-tiba saja dia merasa ilfeel dan menjauh pasca aku terlalu "beringas" mengejarnya. Sebuah reaksi yang waktu itu membuatku heran, tapi sekarang membuatku merasa wajar (apalagi setelah aku juga dikejar oleh seorang perempuan dengan lebih beringas lagi, yaampun, betapa ilfeel-nya, dia begitu obsesif kala itu).

Aku merasa menyayangkan saat itu, tapi biasa saja. "Hanya hari-hari pada umumnya," batinku.

Titik baliknya adalah ketika beberapa bulan kemudian aku merasa sepi dan sial, aku merindukan sosok teman yang bisa diajak bicara banyak hal dan dia salah satunya. Dari situ aku sadar bahwa tak semua perempuan perlu kau dekati sebagai calon pacar.

Introspeksi dan Realisasi

Aku pun juga sadar bahwa pada akhirnya ada beberapa hal yang hanya bisa ditawarkan pada pertemanan dengan perempuan. Sebut saja rasa suportif dan komunal yang lebih hangat. Buatku yang pernah dirundung, pertemanan pria kadang terasa kompetitif dan tinggal tunggu waktu saja sebelum ada satu orang yang akhirnya betulan tidak suka kepada yang lain dan melakukan provokasi brutal.

Selain itu, aku pernah jatuh cinta betulan. Dan biar kuberi tahu bahwa perasaan jatuh cinta yang paling hangat dan otentik adalah perasaan yang datang dengan tak terduga-duga. Bahkan di siang bolong, dengan matahari paling terang, dan awan mendung pun tak nampak sebatang hidungnya; ia datang begitu saja bersama angin lembut yang selama ini telah menerpamu di hari-hari biasa.

Alias, cinta datang karena terbiasa! Witing tresno jalaran seko kulino! Bukan dari mekso atau merelakan dirimu memakai topeng agar tampil oke di hadapan seseorang.

Barangkali cinta kepada Tuhan juga tumbuh dari situ. Dari perasaan sadar bahwa Dia tak pernah kemana-mana. Dia ada dan jadi nafas hidup serta sumber kebahagiaan. Dia pun menyatu dan menjadi Aku.

(Aku agak mempertanyakan di mana letak seksualitas dalam cinta-cinta yang bersifat religius seperti ini? Dan bagaimana biologi menjawabnya? Mungkin perlu kucari tahu lagi)


Tapi ya intinya begitu. Aku menutup upaya-upaya maksa saat melihat seorang perempuan. Akan lebih baik kalau kami menjadi teman ngobrol. Urusan nanti jadi suka atau cinta, itu belakangan. Tidak juga tidak apa-apa.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram