SMP, saya ingin sekali menjadi animator. Cita-cita ini
muncul akibat hobi saya menggambar dan menonton animasi jejepangan (dibaca :
anime). Bahkan dulu sempat hampir menjadi “wibu”, beruntung saja keburu sadar
kalau predikat tersebut dianggap sangat tidak baik.
Masuk SMA, saya lalu mulai mengubah cita-cita. Kali ini pilihan
jatuh pada jurnalis . Sekarang alasannya karena waktu kelas delapan dulu saya
pernah mengikuti ekstrakulikuler jurnalistik dan cukup betah disana, bahkan
sampai menelurkan satu majalah sekolah. Tak lepas pula, hobi menulis menjadi salah
satu influencer mengapa impian itu
berani saya pilih.
Hanya saja, jurnalis yang pekerjaannya keliling-keliling
mewawancarai sekian orang rasanya kurang cukup. Akhirnya ditambah embel-embel
berupa “jurnalis perang” agar bila kelak mati di lapangan, semoga dalam keadaan
syahid sedang membela kebenaran.
Hingga tulisan ini dibuat, cita-cita ini masih konsisten
saya pegang. Meskipun sifat manusia yang ingin memperbaiki diri dan ingin tahu
kerap kali membuat goyah pendirian. Semisal kegagalan saya dalam memahami lingkungan
komunitas serta bagaimana berkomunikasi didalamnya yang pernah hampir
memindahkan halauan kearah psikolog atau sosiolog dalam rangka memahami manusia
itu sendiri.
Pekerjaan jurnalis memang memberikan kemanfaatan lebih
kepada khayalak masyarakat, terutama pada hal informasi. Dapat dilihat, kini jutaan
manusia akan bertindak tergantung dari berita yang mereka dapat. Siapa capres
yang akan dipilih, ideologi mana yang benar, sampai mana film yang cocok
ditonton dibulan ini, semua itu bersumber dari informasi yang dilihat, dibaca,
maupun didengar.
“Namun, jurnalis sebenarnya tergolong ‘pekerjaan miskin’.
Kalau semisal tidak bekerja karena keadaan sakit atau yang lainnya, bayaran ya
berhenti,” ujar kakak kelas saya suatu hari. Meskipun ungkapan tadi mungkin
tidak sepenuhnya benar, namun saya tidak menafikkan bila itu juga salah. Lanjut
kakel saya, ada cara untuk menjadikannya “pekerjaan kaya” yaitu dengan membuka
kantor redaksi sendiri dan masuk ke sektor wirausaha.
Percakapan tadi sebenarnya baru saja terjadi beberapa hari
lalu, namun cukup memberikan warna baru dalam impian kedepan. Mungkin seorang
jurnalis perang yang sembari membuka usaha penerbitan terdengar lumayan? Apapun
itu, kalau dilihat lagi, sektor entrepreneur di Indonesia masih kurang banyak.
Tentu itu bisa menjadi pertimbangan baik, apalagi masyarakat negeri ini lumayan
konsumtif. Meskipun sekali lagi, saya tak terlalu pandai bersosialisasi dengan
banyak orang.
Sampai sini saya akhirnya menyadari bahwa terkadang
sebuah cita-cita tidak perlu gonta-ganti. Hanya perlu dimodifikasi sehingga
dapat mencakup banyak hal yang diminati. Jurnalis juga butuh bahasa untuk
berinteraksi dengan manusia, mempelajari bahasa asing tentu dapat menjadi salah
satu senjata. Begitu pula topik psikologi, jurnalis membutuhkannya agar dapat
berkomunikasi dengan para pakarnya.
Intinya saya tetap perlu fokus pada satu cita-cita dan
memaksimalkannya dengan berbagai potensi.

0 komentar:
Posting Komentar