Resensi Dreadout (2018) : Tak Seseru Gamenya




Sutradara            : Kimo Stamboel
Penulis Naskah : Kimo Stamboel
Pemeran             : Caitlin Helderman, Jefri Nichol, Marsha Aruan, Ciccio Manasero, Susan Sameh, Irsyadillah, Mike Lucock, Rima Melati Adams
Durasi                   : 1 Jam 35 Menit
Genre                   : Horor Thriller


Semakin berkembangnya zaman, video game tak sebatas menggerakkan karakter untuk melakukan aksi-aksi tertentu. Ada narasi cerita didalamnya yang menjadi kekuatan hiburan bagi para pemainnya.
Akibat unsur cerita itulah, banyak cerita dalam game yang diadaptasi ke sinema film. Meskipun kebanyakan berakhir tak memuaskan baik bagi pemainnya dan penonton umum, namun ia masih eksis dan menjadi potensi tema  yang tetap menggiurkan. Perfilman lokal bahkan kini mulai memasuki ranah adaptasi itu.

Adalah "Dreadout ", sebuah judul game lokal yang diangkat menjadi film. Film ini sendiri disutradarai oleh Kimo Stamboel yang terkenal dengan karyanya " Rumah Dara", "Sebelum Iblis Menjemput", dan "Headshot".

Cerita dari film ini diawali dengan sekumpulan anak SMA yang  hendak melakukan uji nyali demi mendapatkan popularitas tinggi di media sosial. Target mereka adalah sebuah gedung tua yang cerita keangkerannya sedang marak di kalangan publik.

Namun akibat sulitnya perizinan menuju tempat itu, geng SMA tersebut mencari orang dalam agar dapat masuk ke gedung itu. Erik (Jefri Nichol) kemudian mendekati Linda(Caitlin Hederman), seorang gadis SMA yang kenal dekat dengan satpam gedung tersebut (Mike Lucock). Setelah melalui negosiasi beberapa saat, Linda sepakat untuk ikut dengan mereka.

Mereka lalu berangkat ke tujuan dan sampai pada malam harinya. Kemudian langsung masuk ke gedung itu hingga menemui sebuah ruangan aneh dengan banyak kertas tersebar di lantai.

Dalam situasi penuh tanda tanya itu, Linda secara tak sengaja membaca sebuah kertas mantra. Tiba-tiba lantai ruangan itu berubah menjadi kolam raksasa. Sontak ke-enam anak SMA itu jatuh kedalamnya. Tanpa mereka sadari, kengerian telah menunggu di seberang sana.
.
.
.
.
Film arahan Kimo Stamboel ini merupakan karya pertamanya tanpa bayang-bayang Mo Brothers. Selain itu, Kimo juga membuat film ini lebih terbuka sehingga polesan gore miliknya berkurang banyak.

Dalam segi CGI dan tata make up, Dreadout tidak sekedar asal jadi seperti kebanyakan film horor lokal. Adegan hantu kepala terbalik, pocong pembawa clurit, tangan-tangan kuburan, ratusan serangga yang menabrak jendela, dan lain sebagainya adalah sedikit dari visual memukau dari film ini.

Saha eta?? AING MAUNG !!!


Untuk akting dari para pemain, mereka layak diberikan apresiasi lebih. Terutama Caitlin Helderman yang kurang mirip dengan Linda di gamenya(menurut opini penulis, wajah Tatjana Saphira lebih cocok daripada Catlyn), dapat memberikan akting natural dan tidak norak, meski dalam posisi adegan yang berpotensi menimbulkan tindakan berlebihan. Rima Melati sebagai hantu kebaya merah juga memberikan penampilan apik dan mencekam. Apalagi dengan wajah seramnya yang patut diacungi dua jempol.

Terlepas kurang miripnya Caitlin dengan Linda, aktingnya cukup bagus.


Dari sisi sinematografi, Kimo memasukkan pengambilan angel kamera khas" The Mo Brothers". Adegan ayunan kapak misalnya, yang diposisikan tepat di belakang bilahnya sehingga  menghadirkan akhir scene menegangkan. Tone warna yang dihadirkan juga cukup bagus, meskipun ada sedikit inkonsistensi saat adegan pengejaran di tengah hutan.

Meskipun ini film horor thriler, namun jangan khawatir, ada banyak selipan humor yang dapat membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Terkhususnya pada karakter Alex ( Ciccio Manasero) dan Satpam Heri dengan dialog kocak mereka sepanjang film.

Masuk ke bagian kekurangan, penulis ingin sekali lagi menekankan bahwa film ini merupakan adaptasi game sehingga ia tak boleh lepas dari elemen utamanya. "Jordan Vogt Roberts", seorang sutradara yang kini sedang menangani adaptasi "Metal Gear" dalam wawancaranya mengatakan ada sebuah hal yang perlu diperhatikan dalam film adaptasi game. Yakni mekanisme permainan aslinya yang perlu diimplementasikan secara baik. Vogt Roberts kemudian mencontohkan film Snowpiercer yang mengambil konsep "tambah level = tambah susah" dan Edge of Tomorrow dengan ide "live-die-repeat" yang persis seperti aturan mati lalu respawn yang dimiliki kebanyakan game. Ironisnya dua film itu bukanlah adaptasi video game.

Pakdhe Jordan dengan jenggot kebesarannya

Dreadout membawa smartphone Linda sebagai bentuk implementasi mekanisme game kedalam filmnya. Dimana sayang sekali, ia justru berakhir canggung. Beberapa kali ada adegan  smartphone itu tidak digunakan, meskipun suasana sedang genting-gentingnya. Hal ini seringkali membuat penonton gemas dan bosan dengannya.

Meskipun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa ide smartphone pembunuh setan memang cukup sulit ditampilkan dalam adegan film. Sayang sekali, Kimo tak mengambil elemen puzzle dan teka-teki dari gamenya. Hantu manekin misalnya, seandainya saja ditampilkan di filmnya, ia sangat berpotensi menjadi adegan menegangkan dan penuh tanda tanya yang jelas menakutkan, apalagi ditambahkan suasana latar gelap.

Hayo mana yang hantu mana yang manekin?

Berbicara soal latar gelap, penulis cukup heran dengan keputusan untuk mengambil warna cerah sebagai latar film ini. Padahal gamenya sendiri mengambil suasana malam hari dengan smartphone
Linda sebagai satu-satunya penerangan dan justru itu yang menjadikannya mencekam.

Adegan repetitif masuk-keluar portal juga perlu dikritisi. Penonton yang berharap petualangan menegangkan setelah melihat trailernya, malah diberikan adegan ditempat itu-itu saja? Kimo yang kamu lakukan itu jahat.

Sebagai solusi, seharusnya dari awal sekawanan SMA itu masuk langsung saja ke dunia lain dan terjebak di dalamnya dalam waktu lama. Sehingga enam tokoh itu berusaha mencari kunci keluar mereka dengan susah payah seperti di film "Keramat" ataupun "Grave Encounters. " Dengan begitu penonton akan simpati dengan nasib para tokoh dan bertanya-tanya sepanjang film.

Kesimpulannya film ini kembali menambah deretan kegagalan adaptasi game untuk sekian kalinya. Tidak bagus, tapi tidak jelek, beruntung Dreadout adalah film lokal sehingga kualitasnya jelas masih diatas rata-rata sebab pembandingnya kebanyakan film horor sampah Indonesia.

Dreadout cocok untuk kamu penonton kasual yang ingin melihat sejauh mana CGI Indonesia telah berkembang dan merasakan ketegangan horor thriller yang masih belum banyak  di industri perfilman Indonesia. Ditambah humor film ini yang cukup menghibur akan membuatmu tertawa sepanjang menontonnya.

Untuk para pemain gamenya, film ini masih dapat dinikmati, meskipun banyak hal pula yang perlu dimaklumi. Saran penulis, sabar saja ketika menontonnya. Bagi penikmat horor, terutama yang sering jual jumpscare mungkin akan kurang menyukai Dreadout sehingga lebih baik simpan uang dulu saja.


Skor Terakhir Dreadout :  64

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram