Halaman 287 buku “101 Dosa Penulis Pemula” karya Isa Alamsyah
membawa bab menarik berupa
kesalahan dalam pembawaan amanat yang sering kali
ditampilkan dalam cerpen, film, sinetron, maupun media hiburan lainnya. Dalam
penjelasan singkat sejumlah empat halaman ini, Isa mengkritisi bagaimana
seringkali banyak penulis pemula yang menjabarkan pesan terlalu verbal dan
kentara. Alih-alih menjadi cerpen yang menghibur, ujung-ujungnya malah berakhir
terkesan seperti buku pedoman akhlak dan ibadah.
Isa Alamsyah kemudian mengambil contoh bagaimana sebuah
pesan dapat disampaikan secara tersirat dalam film “Deep Blue Sea”(DBS).
Layaknya film semacam Jaws, DBS menampilkan beragam karakter potensial yang
sewaktu-waktu dapat terpilih untuk menjadi santapan hiu.
Namun, yang paling menyita perhatian suami dari Asma Nadia
ini justru adalah seorang tokoh taat agama dan selalu memegang kalung salib di
lehernya. Hingga akhir cerita, pria yang selalu berdoa ini memang digigit hiu
juga, namun kemudian dirinya berhasil menyelamatkan diri dengan menusukkan kalung
salib ke mata ikan hiu. Secara tidak langsung, film ini memberikan pesan bahwa
siapapun yang dekat dengan tuhan akan terselamatkan. Sebagai catatan tambahan,
Isa Alamsyah merupakan seorang muslim yang taat.
Contoh lain, dalam film aksi XXX terdapat adegan dimana si
tokoh utama terjun menggunakan parasut. Lalu ditampilkan secara jelas motif
dari parasut tersebut yang merupakan bendera Amerika Serikat. Kesan yang ingin
coba ditampilkan adalah bahwasanya Amerika menjadi penyelamat Eropa Timur dari
bencana. Maksa? Boleh dibilang iya, bahkan Isa Alamsyah juga berpendapat
demikian, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak pula yang menganggap itu
keren dan lagipula hal tersebut tak mengganggu cerita.
Dampak dari pembawaan pesan seperti ini justru lebih powerful sebab selipan-selipan tadi akan
masuk ke alam bawah sadar. Sedangkan pesan yang disampaikan secara langsung
kemungkinan akan berakhir penolakan bagi yang keberatan.
Saya sendiri dulu sebagai anak kecil beberapa kali menonton
kartu amerika dengan propaganda semacam film XXX tadi. Alhasil waktu itu buku
tulis sering dihiasi dengan bendera Amerika Serikat. Bagi diri kecil saya,
bendera Amerika identik dengan para pahlawan hebat dan keren.
Sayang sekali, media hiburan kerap kali tak mempertimbangkan
bagaimana seharusnya pesan disampaikan. Beberapa sinetron kini mengiklankan
produk-produk sponsor secara gamblang, seperti adegan tokoh utama yang
menawarkan produk snack coklat kepada
temannya dan menjelaskan manfaatnya selama dua menit sendiri. Pengiklanan
semacam ini boleh saja, namun kurang efektif.
Padahal film-film terkenal sudah sering mencontohkan bagaimana seharusnya produk diiklankan dengan
cara yang lebih alami. Hasilnya pun pamor produk tetap dapat terangkat, meski
hanya ditampilkan secara sekilas.
Penonton ataupun pembaca bukanlah jamaah yang selalu haus
ilmu. Mereka kebanyakan adalah pencari hiburan semata lewat media-media yang
sudah ada.
Tugas para kreator, penulis, maupun sutradara adalah
bagaimana menyelipkan suatu pesan
kebaikan kepada para penikmatnya, sekalipun jalan cerita sama sekali tak
berhubungan. Dengan begitu, semoga hasil karya bisa menjadi amal jariyah kelak
di akhirat.

2 komentar
susah ya tugas seorang creator itu!
BalasHapusSangat sulit menjadi seorang penulis, karena tulisannya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.... :O
BalasHapus