Bukan perkara konten, isi, maupun intisari yang kini kerap kali minim kontribusi. Soal itu justru mungkin lebih mudah tertanggulangi pada hari-hari di waktu sekarang, terlebih lagi dengan telah hadirnya kesadaran akan tingkat yang lebih tinggi. Bukan pula mengenai dekorasi yang dahulu kerap dipermasalahkan kehadirannya. Apalagi di komunitas para pengkaji, pencipta, maupun perangkai itu; bagianku bukan disana lagi.
Ini adalah soal diksi. Kumpulan kata dengan pilihan gaya busana yang wajib disesuaikan dengan nuansa si tema dan ide. Bila tema hendak berbicara kepada para anak usia dini, tentu diksi tak pantas berkacak dengan setelan jas berharga tinggi, bila ide bermaksud berdiskusi perihal masalah formalitas, diksi juga tak seeloknya berpakaian mini. Singkatnya, diksi lah yang akan terlihat pertama kali, dia sang penimbul impresi!
Menjengkelkan ketika akhirnya diksi tidak begitu aku kenal penuh dan pahami. Bertahun-tahun bekerja sama, hasilnya stagnan dan nampak tidak ada improvisasi. Kata-kata yang nampak terglorifikasi, namun penuh repetisi, disertai pola kalimat yang hampir sama di tiap lini telah terlanjur menjadi ciri.
Dua tulisan yang telah terbit justru nampak sebagai pembenaran atas keresahan diri ini. Di saat individu lain mendapatkan porsi sorotan hingga dua sampai tiga paragraf, bagianku hanya berkutat pada satu atau setengah dari seluruh paragraf. Tentu saja tak bijak untuk memprotes bagian penyuntingan dan mengemis tambahan porsi sebab sumber masalahnya dari diri sendiri, terutama sekali lagi, diksi!
Mungkin diri ini perlu membaca lebih banyak buku, tulisan, artikel, atau tetek bengek lainnya untuk menempa kemampuan literasi atau menambah lebih banyak kosa kata ke dalam kepala. Bisa juga dengan merombak ulang tulisan-tulisan lama, mengacaknya, membongkarnya, dan membedahnya sampai ke kepingan partikel mikroba terkecil; lalu menyusun dengan urutan tak beraturan sampai menjadi bentuk yang baru.
Atau...Ah bangsat, aku kehabisan diksi.

0 komentar:
Posting Komentar