Apakah itu salah? Menurut saya, tidak. Orang berhak untuk merasa terhibur dengan baku hantam, kejar-kejaran, atau komedi receh dari para tokohnya. Selagi itu tidak merugikan orang lain ya sah-sah saja dan mubah sifatnya. Hanya saja, terkadang kita hanya memandang suatu hal dari satu sisi mainstream dan polos.Kitab suci yang berisi kalam tuhan saja cuman mampu dibaca rajin pada bulan Ramadhan, padahal ada sifat Asy-Syifa di dalamnya. Begitu pula film (tanpa bermaksud membandingkannya dengan Al-quran), ia bisa hadir lebih daripada sebuah tontonan hiburan.
Keseluruhan tulisan ini kemungkinan hanya akan didasarkan pada pengalaman pribadi selama meontont film, sebetulnya ingin sekali menambahkan satu dua argumen pendukung dari para pegiat sinema, tapi berhubung saya malas membaca jadi ya begitulah., tidak ada referensi. Kalau boleh menunjuk titik awal, mungkin ada pada saat saya disuguhkan tontonan karya Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel. Ekspektasi saya ini adalah sebuah film dengan cerita yang bakal menarik, ternyata realitanya lebih dari itu. Cantik sekali! Begitulah kesan pertama, The Grand Budapest Hotel adalah sebuah film indah dengan estetika tata artistik dan sinematografi terbaik yang saya pernah saya tonton kala itu. Begitu cintanya dengan film ini, sampai-sampai sudah puluhan orang yang mendengar ocehan tentang Hotel Grand Budapest dari mulut saya. Walaupun memang tidak semuanya memiliki impresi yang sama.
Setelah itu saya menjadi pemuja teknis film. Banyak film dengan pencapaian teknis yang luar biasa seperti 1917 atau Children of Men dengan longhsotnya atau Kala yang lekat dengan latar noir. Namun saya melupakan banyak aspek penting lainnya. Pada akhirnya semua film yang ditonton hanya berputar pada cerita dan teknis, tidak benar-benar ada pengalaman unik yang didapat karena saya merasa kalau cerita jelek, setidaknya teknisnya bagus.
Sampai akhirnya saya tertimpa krisis eksistensi karena terlalu banyak memikirkan teologi. Aktivitas perkuliahan, rumah, apalagi menonton film jadi terkesan sebagai sebuah beban berat dan kesia-siaan belaka. Saya menghabiskan waktu hanya untuk berpikir, membaca tulisan orang, masturbasi, dan tidur berharap pikiran liar itu bisa pulang dan dibunuh saja.
Hingga suatu ketika, saya menemukan sebuah klip potongan film di facebook. Dari sebuah judul lama Bruce Almighty. Film yang menceritakan tentang sosok pria yang diberi mandat oleh tuhan untuk menjadi penguasa bumi dan sebuah kekuatan omnipotence di genggamannya kecuali untuk kehendak bebas manusia. Meskipun film ini melenceng dari ajaran agama dan terkesan melecehkan tuhan karena telah membuat personifikasiNya, namun saya menemukan film ini sebagai gambaran sosok pencipta yang semestinya. Maha Berkuasa dan Maha Tahu, namun di satu sisi juga Maha Asyik. Sosok penguasa alam semesta yang diperankan oleh Morgan Freeman ini entah mengapa menjadi "prasangka baik" saya terhadap sosokNya. Berkuasa, namun tidak semena-mena; hadir sebagai pembimbing yang paling mengerti dan paling benar, tapi lebih menyenangkan dari seorang kawan lama. Pada saat itulah, kontemplasi saya kepada film (mungkin) dimulai untuk pertama kalinya.
Karya baru yang terasa kasual seperti Ghost of War bisa saya temukan titik menarik yang bisa ditaruh di lini diskusi pikiran pribadi. Begitu pula film lama seperti Arrival (fahk, maafkan saya Mas Dennis) yang dahulu ditinggal begitu saja di terminal bernama "sudah selesai nonton sampai akhir", saya angkut kembali dan dengarkan ceritanya lagi sampai akhir, ada kesan baru disana. Ini tentu menjadi anugerah tersendiri, film akhirnya mampu saya rasakan sebagai lebih dari tontonan semata yang seringkali disela dengan obrolan berisik, tapi ia bisa menjadi medium berisikan pesan yang kemudian dibaca dengan aksara yang dipahami masing-masing penerimanya.
"Kritik film lahir dari perasaan, tapi didewasakan oleh pengetahuan," sahut Adrian Johan Pasaribu ketika tengah membahas masalah kritik-mengkritik film. Tanpa berusaha sok tahu, saya rasa kalimat ini cukup menggambarkan apa yang terjadi pada diri ini. Berbagai perasaan itulah yang memang menelurkan rasa untuk menyampaikan kritik film, namun membentuk, mematangkan, dan mendewasakannya adalah peran dari pengetahuan yang dimiliki, baik empiris ataupun teoritis.

0 komentar:
Posting Komentar