Sebagai orang yang telah cukup lama menulis, bagian paling susah menurut pengetahuan empiris pribadi adalah mengenai penulisan pembuka dan penutup. Orang akan tertarik pada suatu hal biasanya dikarenakan impresi awalnya yang menarik dan sebuah cerita akan terasa kesannya ketika memiliki penutup yang baik. Bukan berarti bagian isi sebagai pesan inti berarti tidak penting, hanya saja bila melihat tolak ukur kesuksean dengan jumlah audiensi dan atensi yang didapat, tentu sangat krusial untuk memiliki "kail" yang bisa menarik orang banyak dan "makanan penutup" untuk memuaskan atau sekedar membuat lupa kesan buruk orang dari "hidangan utama" yang kurang matang. Kecuali jika anda seniman yang tidak peduli dengan apa kata orang, itu mungkin beda cerita hehe.
Nah, soal penguasaan pembuka dan penutup ini tentu perlu untuk dilatih melalui membaca dan menulis. Dua buah hal yang selama ini sering ditasbihkan sebagai "amplas" dari kualitas suatu tulisan ini sayangnya tidak banya saya lakukan selama masa pandemi (atau mungkin lebih lama dari itu). Kebanyakan waktu yang dipunya memang dihabiskan untuk tidur dan makan saja sih, sungguh tidak bermanfaat serta sia-sia, semoga Allah mengampuni kelalaian saya dalam menggunakan anugerah-Nya yang bernama kehidupan.
Mungkin karena pada malam ini muncul kesadaran untuk mulai memperbaiki kehidupan ini, maka mulailah saya untuk coba menulis kembali lewat blog yang selama ini nganggur. Bukan untuk tujuan mencari uang seperti tempo dulu ketika masih sok idealis tai ayam, tapi ya semata untuk memperbaiki dan mengasah kembali kemampuan menulis. Apalagi kini orang jarang membaca(kecuali wattpad dan A thread), apalagi lewat blog amatiran miliki individu beridentitas acak yang tidak mereka tahu asal-muasalnya.
Selain itu, ada beberapa keresahan yang ingin saya bagikan curahkan melalui blog ini. Kan begitu manusia, perasaan negatifnya alangkah baiknya tidak dipendam sendiri, namun diceritakan agar hati merasa lebih plong. Lho, tapi kan Allah Maha Mengetahui dan Maha Pengasih lagi Penyanyang? Berarti tetap didengar dong walau dipendam sendiri? Kalau merasa masih menjadi beban sendiri berarti anda tidak percaya dengan sifat ke-maha-an Tuhan? Wayooo, haha, ya kurang lebih begitu itu tadi salah satu contoh keresahan yang ingin di uneg-uneg kan di tulisan mendatang. Semoga Yang Maha Memiliki meridhoi dan mencintai langkah ini.
Yak, mungkin begitu, sudah ya. Memang bukan sebuah tulisan njlimet nan edgy yang orang harapkan. Namun setidaknya perlu ada dulu tulisan pertama sebagai pemanasan dan itu adalah tulisan ini. Monggo dilanjutaken.
Solo, 03 Mei 2021

0 komentar:
Posting Komentar