Raga mulai lelah, pikiran telah membuntu, dan hati sudah mati dari dulu. Begitulah kondisi diri hari ini, penuh keputusasaan di tiap lini. Sejenak ingin mengistirahatkan diri, sekedar duduk ditemani otak kosong dengan papan bertuliskan tutup di depannya. Sayangnya selama masih terikat dengan kehidupan untuk berjanji melewati hari-hari bersama, pikiran buruk itu tentu akan tetap berdatangan dan tak dapat terbendung. Pada akhirnya para penasihat terbaik pun akan berkata, "biarkan lah mereka berlalu."
Tiba-tiba realita datang menghampiri, mengingatkan akan kendaraan bernama waktu yang akan terus berjalan serusuh apapun para penumpang. Bangunlah kemudian diri ini, untuk sekadar menampilkan kesan terhenyak dan mendengarkan. Padahal kalau boleh jujur, tidak ada satupun inspirasi maupun motivasi yang bangun dari diri, hanya paksaan dari realita yang berulang kali sabdanya aku kutuk dan ludahi.
Lalu aku pun harus memilih. Ketika berharap bahwa tinggal kuselesaikan rutinitas dengan harapan agar hubunganku dengan kehidupan lebih romantis, pilihan kemudian menawarkan dirinya kepadaku. Menawarkan? Bukan, dia memaksa! Tidak ada kata tidak bagi tiap perkataanya, bahkan ketika aku katakan keenggananku, pilihan tetap mencatat hal itu.
Sungguh aku benci betul kepada pilihan. Tidak ada satupun nasihat bila yang kutunjuk salah dan tiada pula petunjuk agar kesalahan yang sama tak terulang. Diminta pun tidak akan diberi, katanya soal petunjuk haruslah dicari sendiri. Tapi bagaimana hendak mencari, tiap skenario yang ditawarkan selalu berbeda bentuknya dan kian hari kian rumit. Belum selesai menerka dimana letak benang merah, pilihan sudah harus ditentukan.
Mungkin diriku ini sudah kurang ajar dari sananya. Pada situasi yang genting itu kuputuskan untuk tidak memberi jawaban. Kubiarkan diriku "memilih untuk tidak memilih" dengan sebuah tindakan bernama diam dan mundur dari tanggung jawab. Ya, inilah satu-satunya cara untuk terhindar dari rentetan masalah yang akan hadir dari berbagai keputusan yang kelak kuambil, apalagi bila berkaca dari peristiwa-peristiwa terdahulu, semua yang telah terambil hanya menghasilkan lebih banyak keruwetan dan hal negatif dengan macam-macam nama.
Dalam waktu yang berjangka pendek, nampak tiada masalah yang dihasilkan darinya. Segala tuntutan yang bisa kukerjakan sebetulnya orang lain pun mampu juga, bahkan dengan tingkat penyelesaian lebih mutakhir dan ciamik daripada yang terlintas di pikiranku. Demikian, maka aku lepaskan diri ini di ranjang gantung yang tertambat diantara dua pohon rindang nan sejuk. "Santai, tiada perlu kuemban tanggung jawab menyusahkan yang pada akhirnya selalu berakhir kacau balau, biarlah orang lain menyelesaikannya."
Dalam jangka panjang, ia kembali lagi pada aturan berbunyi mirip dengan "ketika tidak memilih maka sesungguhnya itu termasuk pilihan", menghidari masalah juga sesungguhnya adalah langkah untuk terlibat dalam masalah lainnya. Hujan pun datang, ranjang itu lantas diguyur begitu saja oleh awan hitam pekat di atas sana. Parahnya lagi, macam skenario dari penulis terburuk, pohon itu tersambar petir dan batangnya nyaris ambruk mengenai diriku dan sebetulnya ranjang ini pun adalah pinjaman yang harus dikembalikan malam itu juga, tentu dalam keadaan kering.
Menggelikan memang, ketika hendak tidak memilih pun malah memunculkan masalah pula, bahkan terkadang ia bisa muncul dari mereka yang dikatakan sebagai "mahluk sosial" dan teman hidupku. Hal-hal negatif dengan nama lain pun muncul pada situasi ini, "sinis", "prasangka buruk", "gunjingan", dan lain sebagainya.
Bila sudah begini, maka sebenarnya tiada perlu menyalahkan siapapun, toh menyalahkan pun ujung-ujungnya semuanya bisa mendapat "tunjangan" salah dengan porsinya masing-masing dari pemberi pandangan yang berbeda-beda pula. Lagipula siapa yang sudi dicap dengan stempel bersalah, walau hanya sesenti. Mereka semua dan mungkin termasuk diriku akan membungkus diri dengan baju bermerek gengsi, tebal tipis, panjang pendeknya tergantung dari kadar kenyamanan para pemakainya.
Beginilah hidup, memang penuh penderitaan dengan macam-macam insan yang menyandang gelar sebagai korban ataupun pelaku. Tidak ada yang spesial bila seseorang hidup dengan penuh nelangsa, orang-orang akan mengungkit kisah lain yang lebih menderita dari penjuru, negara, benua lain hingga antah berantah nun jauh disana. Walau sewaktu-waktu keadaan bisa sungguh menciptakan ironi dengan mereka para penjaja "nasib orang lain ada yang lebih buruk" (dibaca : bersyukur!!) akan berada di posisi merasa nelangsa itu dan meminta-minta belas kasih ditambah pengertian orang lain. Tentu saja jawaban orang masih tetap akan sama dan berulang terus seperti sebuah lingkaran setan yang berputar tiada henti.
Kalau memanusiakan sebagai tindakan memperlakukan manusia selayaknya manusia itu berbunyi penuh kebajikan dan welas asih itu memang benar adanya, apakah manusia itu sebenarnya masih ada? Atau kita memang sudah tidak layak lagi disebut manusia?

0 komentar:
Posting Komentar