Namun skenario takdir juga tertulis agak berbeda di pagi itu. Tiba-tiba sebuah rekomendasi video muncul di beranda ponsel si mahasiswa. Tidak perlu membaca seluruh judulnya, dua kata yang berbunyi "kesepian" dan "manusia" sudah cukup untuk membuat jemari si mahasiwa tergerak memencet video itu. Tak lupa, bagian kaki dan tubuh juga langsung bangkit berdiri untuk mengambil posisi duduk di kursi kayu dekat pintu masuk kamar. Ia ingin mendapat pengalaman menonton dengan posisi paling nyaman.
Maka dimulailah video. Isi materi dibawakan oleh seorang pengajar filsafat kondang, Dr. Fahrudin Faiz. Walau pelan beliau berbicara, tapi begitu runut penyampaiannya. Si mahasiswa menyimak dan memandang ponselnya dengan tatapan fokus. Sesekali ia manggut-manggut sebagai isyarat untuk menyatakan dirinya menerima hal yang didengar.
Akhirnya "garis merah" pun mencapai ujung, video pun rampung. Si mahasiswa sebetulnya sudah paham dengan materi yang telah didengarnya, tapi ia putuskan untuk tidak terlalu memikirkannya dulu. Maka benar saja, setelah beberapa video lanjutan, aktivitas golernya kembali dilanjutkan. Tak berselang lama, matanya juga ikut terpejam.
.
.
.
Betul, itu adalah saya beberapa bulan yang lalu. Endingnya memang terdengar tidak menarik sama sekali karena nihil pengembangan karakter di dalamnya. Namun jangan salah, bukan berarti sekuelnya juga sama. Jika tadi saya kerjaanya goleran sambil main hape lalu tidur, sekarang tidak, berbaring aja langsung tidur sekejap. Durasi tidurnya pun lebih lama. Mantap kan?
Yap, memang tiada perubahan totalitas yang amuk-amukan setelah peristiwa itu. Seperti biasa, yang berubah hanya pemikiran saya, eksekusi belakangan, nunggu hidayah. Namun perubahan dalam skala hanya seukuran pola pikir di otak pun juga patut disyukuri. Selain bisa menjadi pemantik bahan diskusi rasa debat kusir, setidaknya cara pandang dunia pun akan ikut terpengaruh.
Video Dr Fahruddin Faiz tadi bercerita mengenai hakikat kebebasan dan keterikatan manusia. Dua kutub yang saling bertolak belakang, tapi pengaruh untuk masing-masing terikat dengan sangat kencang. Disebutkan bahwa manusia harus mengorbankan kebebasan agar tidak kesepian sebab berkelompok sudah macam kodrat pokok dan tiada orang yang sendiri, ngaku di kamar bisa sendiri cuman main hape pun sebenarnya hapenya juga dipakai buat interaksi dengan orang asing di medsos, dasar. Di sisi lain, bila ingin bebas maka harus rela menanggung sepi sebab keterikatan akan membuat kita sungkan, harus berpikir ulang, dan meninjau kembali perbuatan supaya orang tidak tersinggung; kalau sudah begitu jelas bukan masuk kategori bertindak bebas.
Nah, yang saya bisa ambil dari kesimpulan itu adalah bahwa fakta bila saya masih butuh keduanya. Ngaku suka sendiri, tapi di sosmed keras juga curhatannya agar orang pada ngenotice perasaan diri ini. Pengennya diakui, tapi juga malas kalau ketemu orang langsung. Apalagi keluarga besar, kudu ini lah, itu lah, pokoknya hal-hal yang katanya biar keliatan sopan dan santun terhadap sesama. Tai kucing, ribet betul.
Dulu saya terpikir berlebih dengan perasaan itu, tapi video tadi sepertinya membawa perubahan cara pandang terhadap perilaku selama ini. Jika kabur ketika ada tamu, tidak usah lagi menganggapnya sebagai pelarian, sebetulnya itu adalah upaya untuk mempertahankan hak-hak kebebasan. Untuk contoh kasus satunya saya tidak nemu karena sebegitu sepinya hidup diri ini, mentok paling waktu gegayaan di story IG aja dan itu rada ga masuk, tapi intinya itu adalah upaya untuk menepis rasa kesepian.
Kesannya seperti saya menjustifikasi tindakan egois berdasarkan perkataan seorang cendikiawan dan mungkin Dr Fahrudin Faiz akan geleng-geleng kepala melihat interpretasi saya terhadap ceramah beliau. Namun poinnya adalah saya bisa melihat sisi positif dari hal yang selama ini membebani pikiran. Daripada pusing mikirin waktu tepat untuk keluar karena takut dianggap anomali dalam kehidupan masyarakat, lebih baik melihatnya sebagai upaya mencari kebebasan dengan jalan melepas keterikatan. Enteng dan tidak rentan terhadap gangguan mental.
Dalam sendiri kutemukan sunyi
Sunyi yang terlampau besar
Namun sunyi tak lantas mengintimidasi
Sebab sunyi kemudian memberi
Antara damai dan inspirasi
Ketika diri tengah lari
Maka damai kupilih
Ketika diri tengah buntu
Maka inspirasi pun diberi
Duhai sunyi
Ceritakan perjalananmu selama ini
Perjalananmu bersama bijak bestari
Filsuf, sufi, hingga para wali
Duhai sunyi
Ceritakan pula perjalananmu yang lainnya
Perjalananmu bersama biadab keji
Penjahat, perusak, mereka-mereka yang bejat
Yang manakah diri ini?

0 komentar:
Posting Komentar