Valorant awalnya bukan merupakan gim yang saya idam-idamkan untuk dimainkan. Dibanding hype nya yang terus meninggi, CS GO masih terasa nyaman untuk tetap dimainkan, apalagi genre permainannya kan juga sama. Apalagi adanya faktor lain seperti skil ala-ala gim moba malah bikin saya mikir kalau itu justru bikin permainan tambah ribet karena harus menghafalkan sekian banyak jurus-jurus pendekar di Valorant, lalu UI dan desain yang mirip Overwatch juga awalnya bikin saya salah gerak dan keteteran karena sulit untuk mempertahankan pergerakan taktis di tengah suasana yang less realism dan gonjrang-gonjreng.
Namun seperti yang saya tulis tadi, "awalnya" karena kini justru akhirnya hati tertambat dan dopamine sedang asyik-asyiknya menunggu suara match found! keluar tiap kali ditemukan jumlah orang yang pas untuk dijadikan kompatriot dan musuh dalam sebuah permainan. Bila rasa suka dan cinta seringkali dituliskan erat kaitannya dengan suatu kenyamanan, maka saya pikir ada beberapa alasan dari rasa suka saya ke Valorant yang coba dijabarkan di bawah ini.
1. Genre FPS
Paling fundamental dan mendasar adalah fakta bahwa Valorant mengusung genre FPS yang secara jelas merupakan salah satu favorit saya sejak lama. Perspektif orang pertama memang memberi kesempitan visual karena jarak pandang hanya terbatas pada apa yang benar-benar dilihat dari mata, tetapi di satu sisi turut memberi sebuah pengalaman yang lebih imersif dan fokus tinggi dalam identifikasi lingkungan yang terdapat di dalam gim. Sisi imervitas dari FPS ini yang mendasari kesukaan saya kepadanya, terutama dalam kasus ini adalah Valorant.
Di sisi eksternal dan masih berkaitan dengan genre FPS, sebetulnya alasan awal saya mencoba Valorant juga karena waktu itu tengah bosan menunggu update-an dari CS GO yang lama betul. Ndilalah kepikiran untuk mencoba Valorant saja sebab genre keduanya kan sama. Bisa dibilang pilihan Valorant sebagai eskapisme dari rasa jenuh itu juga didasarkan pada, lagi-lagi, genre keduanya yang masih sama.
2. UI dan World Design yang Memanjakan Mata
Memang desain dari dunia Valorant tidak serealistis gim FPS hardcore lainnya dan terlalu berwarna-warni untuk gim yang memiliki pace cenderung lambat, tetapi apa saya membencinya? Tidak. Sebagai seorang insan yang ditakdirkan memiliki kenyamanan di jalur seni dan estetika, saya merasa bahwa desain semua aspek di Valorant dari promotional art, cinematic trailer, hingga hal-hal yang ada di dalam gamenya bisa dikatakan sangat memanjakan mata. Keindahana desain ini juga diimplematasikan dengan baik pada kedetailan di tiap map, seperti hadirnnya pemandangan kemegahan gunung es dan kapal karam yang ada di medan Ice Box yang membuat takjub serta keren untuk sekedar dilihat-lihat di tengah pertarungan para agen.
3. Skill Ternyata Bikin Permainan Menjadi Lebih Menarik
Di awal, saya memang sudah terlanjur sangsi duluan dengan aspek skil yang ada di dalam gim, apalagi dengan jumlahnya yang seabrek itu. Dari situ kemudian muncul kekhawatiran akan permainan saya yang bakal gak karuan karena dan itu memang sempat kejadian, teparnya ketika saya memilih karakter Phoenix dan berkali-kali terbutakan dari serangan flash sendiri. Tak heran kalau kuping sempat sakit karena harus mendengarkan ocehan dan teriakan bocil-bocil Filipina dan Singapura yang mencaci maki gaya permainan saya, padahal hanya main di unrated lho ya.
Meski begitu saya akhirnya saya tetap coba main dan beradaptasi dengan agen-agen lain seperti Sova, Sage, ataupun Brimstone. Lambat laun, coba-coba itu akhirnya berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu menghasilkan sebuah kenyamanan. Rasanya memang diversitifitas kemampuan para agen menambah sisi menarik dari jalannya permainan, bahkan memberi sisi taktikal yang tidak dapat ditemukan di gim FPS lain. Ini pun menjadi pembahasan menarik ketika elemen yang flashy, berpotensi unbalance, dan terkesan tidak realistis ini bisa menghasilkan pengalaman taktikal yang harus dipikirkan dengan matang.
4. Hadirnya Lore Cerita yang Menjanjikan
Riot memang cukup concern dengan world buliding dan cerita yang dibangun di dalam tiap seri gimnya. Sebutlah League of Legends yang memutuskan untuk membuat sebuah seri animasinya tersendiri mengenai cerita di gim. Eksekusinya pun tidak main-main; animasi yang apik, soundtrack dari nama-nama musisi ternama, hingga pembukaan megah melalui sebuah screening premiere. Riot benar-benar tidak main-main dan seolah menunjukkan tajinya dengan sebuah teriakan lantang, "begini lho caranya bikin film pake cerita video game yang bener!"
Begitupun dengan Valorant. Bila ditilik dari beberap episode sinematik yang ditampilkan di kanal Youtube mereka, Riot secara serius memberi alasan logis dari perang antar agen dengan wajah sama yang selama ini sebatas ditanggapi dengan "halah, gameplay mechanic kalik." Apalagi bila dibandingkan dengan gim FPS lain yang sekedar jual cerita karakter bohay dan pretty looking dengan kemampuan melumpuhkan legiun zombi atau bahkan tidak serius menggarap sisi ceritanya (ehem, Counter Strike, ehem), Valorant jelas menunjukkan kualitas penggarapan cerita yang lebih baik.
5. Desain Karakter yang Wangy-Wangy
Ini alasan terakhir sekaligus yang paling suka-suka serta tidak beradab, ehehe. Tetapi serius, saya jarang sekali jatuh cinta dengan karakter fiksi yang digambarkan di gim atau anime (setidaknya untuk 5 tahun belakang ini). Hanya saja waktu main Valorant, kok ya batin saya berkata, "kok Viper, Jett, ma Sage cangtip juga yah😳".
Bila dipikir-pikir, ini tentu ada hubungannya dengan desain karakternya yang selain nyaman dipandang juga tidak memberi tampilan yang menonjolkan seksualitas bentuk tubuh. Ini kan suatu hal yang langka bila dibandingkan dengan gim FPS dengan karakter perempuan lain yang kerap jualan tropes paha dada di tokoh perempuan mereka (ehem, Counter Strike Online, ehem). Nah, tampilan yang tidak biasanya ini tentu memberi suatu penyegaran tersendiri yang juga patut untuk disyukuri, apalagi untuk saya yang kerap kali butuh referensi karakter untuk gambar-gambar pribadi.
0 komentar:
Posting Komentar