Guntur berkali-kali bergelegar, kilatan cahaya tak henti-hentinya terpancar, dan hujan pun lantas turun. Aku memandangi ponsel dengan perasaan resah, memikirkan isinya yang sedari tadi tak berubah. Apakah ini hanya perihal cuaca atau perasaan hati yang tak menentu? Aku tidak tahu, barangkali keduanya adalah jawaban benar dalam waktu bersamaan.
Hingga akhirnya, sebuah baris kata muncul dari pojok atas ponsel. Isinya menanyakan keberadaanku. Aku segera merapikan pakaian, memakai sepatu, dan bergegas turun ke lantai satu. Suasana hujan sudah sedikit membaik, hanya tersisa rintik gerimis. Di ujung jalan, sepasang cahaya lampu mobil menyorot ke arahku. Aku melambai ke arahnya, lalu mempercepat langkah kaki yang sudah terarah ke sumber cahaya itu.
Jendela terbuka, nampak sepasang mata sayu dengan bingkai kacamata di depannya. Dengan rambut yang tergerai panjang ditambah pakaian hijau gelap dia menyapaku dan mempersilakanku masuk ke dalam mobil. Aku mengambil kursi belakang, berjejeran dengan seorang pria yang merupakan kawannya, satu lagi lelaki bertubuh gempal yang memegan kemudi juga tak lupa kusapa.
Kami berbincang singkat, melemparkan sejumlah canda tentang peristiwa yang telah dialami masing-masing. Sontak mobil itu lantas menjadi ramai, namun hanya suaranya lah yang benar-benar kudengar kala itu. Sebab kehadiranku bersama mereka di malam itu sebetulnya hanya karena dia, dia Si Gadis Mangkunegaran.
…
Awal pertemuan kami berasal dari sebuah peristiwa eskapisme berbalut tujuan mulia, katakanlah demikian. Sebab magang di ibukota Jawa Tengah ini bukan merupakan hal yang aku senangi karena aku begitu jauh dari kawan-kawanku di Solo, yang telah kudedikasikan waktuku untuk mereka selama satu bulan kemarin. Maka hari-hari di sini kuhabiskan dengan banyak berduka dengan membawa kenangan-kenangan lama mengenai mereka. Barangkali kenangan itu pula yang akhirnya mengantarkanku untuk menemukan kumpulan orang-orang yang memiliki identitas serupa dengan para mereka yang ada di Solo.
Maka di minggu pertama, aku banyak habiskan waktuku untuk mencari unit mahasiswa yang berfokus di jurnalistik. Mencari keberadaan mereka tidak begitu sulit karena diriku magang tepat di tengah-tengah lingkungan kampus swasta ternama. Beberapa hari kemudian, telah kukantongi izin dari mereka untuk bertemu di kediaman yang di Solo kami sebut sebagai “sekre” sementara disini disebut sebagai “camp”. Kau pikir mau kemah, pfft…
Hei, tapi itu kemudian menjadi pertemuan yang cukup lancar dan agak janggal. Aku disambut dengan satu botol air mineral, beserta satu kotak martabak. Gila, padahal aku hanya ingin mengobrol saja, mengapa ini menjadi pertemuan yang begitu formal? Atas hal itu pula, pembicaraan menjadi sedikit canggung di beberapa titik. Aku begitu tertekan dengan “keroyokan” orang-orang yang menyambutku, ditambah topik yang dibicarakan tak begitu terstruktur tapi begitu kaku. Alhasil kami sempat beberapa kali menguap mendengar ucapan yang keluar dari mulut kami masing-masing, konyolnya.
Adalah setengah jam kemudian, ketika seorang gadis tiba-tiba mengetuk pintu depan, lalu duduk, dan memperkenalkan dirinya. Kala itu rambut panjangnya masih diikat, meski wajahnya memang memiliki sejumlah jerawat; tapi bagian lain seperti bibirnya yang sedikit menyungging, hidung yang menggemaskan, dan mata sayunya yang menawan, seolah tetap melegitimasi pesona wajahnya yang rupawan.
Dialah Si Gadis Mangkunegaran, aku menyebutnya demikian karena dirinya memang masih memiliki keturunan dari Kasunanan Mangkunegaran Surakarta, orang yang menjadi pemimpin para kumpulan mahasiswa yang menasbihkan dirinya sebagai Persma di kampus swasta itu. Kehadirannya juga membawa suasana hangat, tidak, bukan karena aku sudah menyukai di pandangan pertama, tapi karena dirinya dengan cerdas mengalihkan topik ke pembicaraan yang lebih ringan. Selain itu, posisinya sebagai “ibu” mereka disana juga barangkali turut membawa suasana kekeluargan yang nyaman.
Sampai akhirnya tibalah sebuah pertanyaan darinya, yang menanyakan pengalaman diriku selama berada di ibukota Jawa Tengah itu. Aku mengatakan bahwa aku belum kemanapun dan bersedia pergi ke tempat yang mereka rekomendasikan, kalau ada. Setarik nafas kemudian, dia langsung menyebut beberapa nama tempat yang dianggapnya paling menarik. Namun ada satu nama yang berbeda karena dia sebutkan bahwa itu merupakan spot incaran muda-mudi untuk berkencan, lantas dia berkata, “bareng sama aku, mau?”
Seisi ruangan tertawa, begitu pula aku, sebelum kemudian hening kembali. Namun aku tak tinggal diam, kuberikan jawaban.
“Boleh.”
Lagi-lagi seisi ruangan dipenuhi dengan tawa. Termasuk dirinya disana.
…
Ajakan kencan itu sebetulnya memang semata-mata bercanda. Aku paham betul. Namun bayangan dirinya yang terus mengisi isi kepalaku selama beberapa malam lantas memaksa jari tangan untuk menagih ajakannya kembali. Dia menyanggupi, meski beberapa teman turut dibawanya dan pada akhirnya bila dibilang kencan pun juga tak begitu pantas.
Pertemuan itu menyenangkan, kami banyak berbicara tentang banyak hal, meski aku akui pembicaraanku dengannya tidak begitu intim kala itu. Akhirnya sisa hari banyak kuhabiskan untuk memikirkan ajakan yang tepat untuk berjalan berdua saja dengannya. Muncullah ide untuk liputan bersama, meningat kami sama-sama jurnalis mahasiswa. Lagi-lagi dia menyanggupi dan lagi-lagi dia membawa teman. Haduuh.
Namun aku tak menyerah, di penghujung malam itu kuberitahukan kepada dirinya bahwa ini malam terakhirku disini. Dia menyayangkan hal tersebut dan lantas mengajakku untuk berkeliling lagi ke kota Semarang, berdua saja. Meski kutahu itu juga tidak begitu intensional karena kebetulan teman yang dia bawa adalah dua orang perempuan dan mereka tak bisa pulang terlalu larut.
Kami lantas berboncengan, menyusuri jalanan malam sembari mengobrol perihal beberapa hal. Berhenti di salah satu angkringan untuk mengobrol lebih banyak lagi. Barangkali aku terlalu memosisikan diriku sebagai penanya sehingga pembicaraan malam itu tidak begitu berimbang, aku yakin dalam hati kami sama-sama sepakat bahwa obrolan kami mengundang rasa kantuk. Tak apalah, setidaknya perbincangan di atas motor, entah mengapa, tetap lebih seru dan jadi bumbu penyeimbang untuk hambarnya obrolan di angkringan.
Besoknya aku meninggalkan kota itu dengan membawa sejumlah ucapan darinya yang menyatakan bahwa ia juga turut ingin berkunjung ke kota-kota yang aku singgahi berikutnya. Ucapan itu memang bukan janji, hanya sebuah prediksi barangkali atau paling tidak ya basa-basi. Aku pun telah menjawab dengan menyatakan diri bahwa aku akan menunggu kehadirannya. Sebuah jawaban yang barangkali juga merupakan prediksi nan basa-basi karena untuk dua bulan kemudian kami memang tak pernah bertemu lagi. Telah kusempatkan diriku untuk mengajaknya liputan yang kedua kali, dia menjawab “sibuk”. Jawaban yang mencegah pertemuan kami, sekaligus mencegah perasaan ini untuk berlabuh lebih lama kepadanya.
…
Bila ada yang bertanya mengenai apa yang membuatku menyukai Si Gadis Mangkunegaran, dahulu aku akan jawab “karena cinta”. Sebuah jawaban yang nampak indah pada kala itu, tapi setelah perasaanku kepadanya terkikis, aku pun seringkali bertanya-tanya, “serendah inikah perasaan yang kupikir adalah cinta?” Jujur, selepas itu aku sempat frustasi, menuding diri ini yang begitu jahat untuk melepaskan rasa cinta kepada dirinya yang telah membuat hati ini berbunga-bunga, baik itu karena harum kuntum maupun sakitnya duri-duri di bagian tangkainya, semua itu aku terima.
Sedikit-demi sedkit, aku lalu menerima keputusan diri. Barangkali dahulu rasa itu timbul karena aku memang tengah mencari sosok pasangan yang mampu melengkapi pribadiku yang penuh kekurangan, dan Gadis Mangkunegaran itu adalah sosok yang kala itu kuanggap mampu mengisi peran itu. Itu alasan utamanya, di antara alasan-alasan lain seperti pesonanya ataupun wajahnya yang rupawan.
Aku pun juga menyadari kami memiliki sejumlah ketidakcocokan. Dia menyukai jurnalistik karena fotografi, aku menyukai jurnalistik karena tulisan; dia tak ingin memusingkan masalah agama, aku berusaha mendalami ajaran agama yang kuanut; dia menyukai kopi, aku enggan menoleh ke arah romantisasi kopi (dan rokok); dan lain sebagainya. Perbedaan itu memang tidak serta merta menjadi alasan yang menghalangi rasa cinta ini berlabuh lebih lanjut, bahkan aku sempat berpikir bahwa kami akan saling mengisi dengannya. Namun seiring berjalannya waktu, pada akhirnya kupikir memang ada beberapa perbedaan yang ikut menjadi penghalang untuk kami menjadi pribadi yang saling mengisi.
…
Duh Cah Ayu, Mbiyen Aku Ngrasa Tresna Marang Awakmu
Saben Bengi, aku dunga marang gusti mugi diparingi mimpi ketemu bayanganmu
Kala kuwi, bayanganmu wis iso dadi tombo loro ning awakku
Namung, ati iki ra mampu nahan roso
Nalika awakmu adoh ning Kidul kono
Banjur dino ganti dino, ati iki wis ra nduweni tenogo
Mung gawe sekedar tresna marang bayanganmu
Nanging ra ono penyesalan
Malah aku ngucapno syukur marang gusti
Syukur amargo wis diwenehi wektu gawe tresno marang Awakmu

0 komentar:
Posting Komentar