Peran Apa yang Hendak Tuhan Berikan Kepada Saya?



Januari 2023 masih menyisakan 21 hari, ada banyak waktu untuk sekadar mengoptimalisasi diri agar penyesalan di kemudian hari tak begitu besar. Namun begitu, saya juga perlu bersyukur karena pada 10 hari ke belakang ,Tuhan juga memberikan beberapa momen berkesan yang layak dibanggakan. Mulai dari nobar bersama Ultras Garuda yang memberikan pengalaman menonton timnas paling gokil sedunia, pertemuan dadakan dengan orang-orang menyenangkan di Magelang, dan Temanggung yang pelan-pelan mulai bersahabat.

Di malam ini, ada satu momen lagi yang datang dan memberikan kesan kejut. Tidak, ini bukan perkara timnas yang kalah, itu ada di hari kemarin (dan jelas bukan momen yang menyenangkan pula). Semua ini berawal dari blog milik Mbak Ifah yang malam ini saya iseng-iseng baca.

Layaknya tulisan seorang Mardhiah Nurul Latifah, tiap paragraf di dalamnya memiliki kedalaman diksi yang luar biasa. Pelan namun pasti, satu persatu tulisan aku tamatkan. Wanti-wanti dari Mbak Ifah mengenai materinya yang alay juga tidak begitu tepat, ya setidaknya dibanding curhatan ibu-ibu di grup KBM ini masih oke lah.

Tibalah saya di satu tulisan Tanpa Judul. Lagi-lagi diksinya masih bagus, tapi isinya kali ini membuat saya tertegun. 

Di dalamnya adalah keresahan si penulis dengan kondisi Indonesia belakangan ini. Mulai dari kasus kerusakan lingkungan, kehancuran moral, hingga kelicikan orang-orang di puncak hierarki kehidupan. Di atas kertas, memang tidak ada yang spesial dengan tulisan tersebut, anak edgy dan didikan nasionalisme yang baru ikut seminar bela negara juga banyak berkeluh kesah demikian. Hanya saja ungkapan pada paragraf pertama bahwa penulis sampai menitikkan air mata ketika menyadari kondisi negeri menimbulkan kesan deg pada dada saya.

"Tulisan itu jujur," sahut Bang Apip pada suatu malam yang melankolis. Kata-kata dari pria berambut gondrong itu menjadi landasanku untuk mengamini bahwa isi tulisan di depan layar adalah sebuah ketulusan.

Saya lantas malu kepada diri sendiri. Di umur yang sudah menginjak dua dasawarsa ini, sikap empati yang demikian tak sedikit pun pernah muncul di hati, sementara satu persatu orang di sekitar saya mulai mencurahkan keresahannya masing-masing, yang bersumber dari rasa welas asih dan kemurnian nurani.

Memang ada beberapa tulisan yang saya tulis karena berdasar pada keruwetan hidup. Namun itu tidak hadir dari perasaan terpuji, alih-alih benci dan tinggi hati justru menjadi "sumber bahan bakar" utama dari tiap bait kata yang pernah saya ketik.

Saya yakin bahwa tiap kejadian dalam hidup merupakan sebuah skenario yang telah ditetapkan, secara hakikat. Kita semua adalah aktor, ah bukan, kita adalah boneka kayu yang digerakkan dengan tali temali dan segala akting merupakan suara dari Dalang. Layaknya ungkapan tenar bernada mistik itu, kita ini sebetulnya tidak ada dan adanya kita ini karena di-ada-kan.

Malam ke-10 pada bulan Januari 2023 ini adalah sebuah kondisi pasca kejut. Konflik batin lagi-lagi menyambangi diri dan untuk kesekian kalinya, saya bertanya kepada Tuhan, kali ini mengenai peran yang sebenarnya hendak saya emban. Apakah antagonis? Sosiopat? atau orang gagal? Tiga kategori tadi tidaklah semata hadir sebagai bentuk kelengkapan kata, tapi memang rasanya hanya tiga itu lah yang menjadi potensi peran saya.

Saya tidak seikhlas Abah FK dalam menghadapi takdir. Ada beberapa ketakutan dan keraguan mengenai kejadian di masa yang akan datang. Itu semua hadir, lagi-lagi, akibat kesadaran akan absennya rasa empati, welas asih, dan sifat-sifat heroik dalam diri ini. Tuhan seolah mengisi seorang Atif Kasful Haq dengan kesombongan, kebencian, dan iri hati. 

Entah kapan isi itu akan dicabut dan diganti.





0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram