Biarpun Pseudosains, Konsep Persiapan Diri di Law of Attraction itu Masuk Akal



Jikalau pembaca sekalian pernah merasakan sebuah kegiatan bernama seminar, barangkali kata law of attraction bukanlah menjadi hal yang asing. Sebuah terma yang digembar-gemborkan sebagai cara alam semesta bekerja, sebut saja sebagai algoritma Tuhan. Dengan dibawakan bersama suara lantang sang motivator, sekejap mata mulai berbinar mendengar tiga kata dengan arti harfiahnya sebagai hukum tarik menarik.

Bombastis sekali memang. Namun saya bukan termasuk orang yang memercayainya. Sebuah konsep konyol yang berusaha memetakan pola takdir dari Tuhan sedangkan Yang Maha Kuasa punya sifat jaiz dan tidak tunduk pada keinginan manusia. Lantas, bagaimana mungkin itu bisa masuk akal? Pikir saya. Apalagi salah satu penyebarnya adalah orang yang yakin akan Lemuria, sebuah benua fiktif yang tak ubahnya dongeng anak SD yang dibuat oleh pendongeng dengan mulut lamis-nya.

Lalu untuk bertahun-tahun kemudian, keyakinan itu masih aku pegang. Hingga akhirnya aku menjumpai sebuah kajian ketika Pak Faiz membahas law of attraction di dalamnya.

Aku sebagai orang yang mengagumi sosok bersuara halus nan lemah lembut itu lantas hanya mendengarkan isinya. Memulai semua dari nol, mengosongkan gelas pikiran berisi anggapanku terhadap law of attraction selama ini.

Hasilnya, luar biasa, aku tetap tidak setuju. Namun untuk beberapa bagian yang lain, dengan perantara suara lembut Pak Faiz, aku pun berakhir mengamini isinya.

Bagian soal perlunya kesiapan diri untuk kemungkinan yang kita inginkan adalah salah satu yang pada akhirnya benar-benar kusetujui, setidaknya pada aspek etika. Sebab kupikir memang sepantasnya demikian; ketika kita menginginkan hasil terbaik, kita pun harus berada pada kondisi yang siap untuk menerimanya terlebih dahulu. Ajaran ini juga dapat dikaitkan dengan fenomena sosial seperti para orang kaya baru yang kehilangan uangnya dalam sekejap mata atau seorang bapak pemilik perusahaan yang menunggu anaknya untuk siap terlebih dahulu untuk menerima jabatan prestisius di perusahaan yang telah dirintisnya sejak masa nelangsa.

Dalam konteks kehidupanku, ada banyak keinginan yang tersimpan dalam pikiran. Biar kubocorkan, paling dekat tentu adalah keinginan untuk mendapat pasangan hidup, hahaha. Sebuah impian yang terdengar pekok mengingat aku sudah dua kali gagal (baca: menggugurkan diri) dalam upaya untuk mencari pacar atau apa lah sebutannya itu.

Tapi ya, asa itu sebenarnya lumrah bukan? Sebagai seorang laki-laki yang baru menginjak usia 20 tahun, keinginan untuk mendapat kekasih itu adalah suatu kewajaran. Apalagi mengingat diri ini adalah seorang pesimistis yang butuh afirmasi, kehadiran "orang spesial" itu tak ubahnya seorang teman hidup yang dengan segala keindahannya akan kulayani berbagai kritikan dan sarannya kepadaku. Idealnya demikian.

Keidealan itu juga lagi-lagi ya harus aku siapkan sedari dini, apalagi ketika ia turut membawa segala "ideal-idealnya" yang lain.

Biar kubocorkan wahai pembaca (yang barangkali juga hanya aku dari masa depan). Gadis yang kali ini menghinggapi pikiranku adalah seorang penulis berwajah malas dan berbahasa canda. Aku sudah kerap bertemu dengannya untuk 6 bulan ke belakang, tetapi rasa itu baru tumbuh baru-baru ini. Pun layaknya orang yang jatuh cinta, sederet perhatian mulai kuberikan kepadanya, kali ini terbungkus dengan lebih rapat untuk menghindari kesalahan yang telah diperbuat sebelum-sebelumnya.

Apakah dia Kalis Mardiasih yang selama ini kucari? Entahlah. Tapi bila memang itu dirinya, maka aku pun harus bersiap menjadi Agus Mulyadi, setidaknya dimulai dari kepiwaianku terlebih dahulu dalam menulis dan berpikir.








0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram