Alih-Alih Bersamamu, Aku Justru Menua Bersama Kesendirian



Bangun siang, pukul setengah dua belas. Tak banyak yang kulakukan selain mencari ponsel sebagai bahan genggaman. Mencari-cari bahan bacaan, menunggu pesan balasan, seolah aku adalah Mesiah yang telah lama dinanti kehadirannya. Walau kutahu ujungnya pun adalah sebuah nada sunyi dari gawai yang kupegang, aku terlanjur terjebak dalam candu untuk mencari perhatian dunia. Tak menyadari bahwa diri ini sama saja seperti ratusan juta orang lain yang kini berlomba-lomba menilik atensi hingga ujung bumi.

Aku tak ubahnya buih air di antara luasnya samudera.

Mengetahui realita yang demikian, maka kutitipkan sebuah pesan kepada diriku di masa depan. Tentang kondisiku sewaktu menulis tulisan ini.

Kita telah menginjak usia 20, tahun ini seharusnya bertambah lagi satu digit di belakangnya. Di usia yang terbilang masih muda, kita sudah mengalami sakit-sakitan. Demam berulang kali menghinggapi, punggung selalu mengeluhkan rasa nyeri, dan penglihatan kita semakin buruk. Aku khawatir ketika engkau membaca ini, kita telah kehilangan penglihatan.

Kita hidup bahagia sendiri. Tenang, tanpa gangguan dan tuntutan dari para handai taulan yang mengklaim dirinya paling layak kita hormati karena telah hidup bersama kita semenjak diri ini masih belum bisa mengeja. Namun ketenangan itu harus dibayar mahal dengan kesendirian.

Memang telah kutemukan para insan yang dengan bangga kusebut sebagai keluarga, tetapi satu persatu dari mereka tak bisa selamanya tinggal dan kita pun mengetahui bahwa cepat atau lambat perpisahan itu akan segera datang. Teruntuk para kakak, adik, dan saudara; kuucapkan banyak terima kasih sebelum hari itu benar-benar datang.

Kita masih banyak mengeluh akan absennya kehadiran seseorang yang spesial dalam hidup. Dua hari sebelumnya, baru saja kutulis sebuah tulisan yang menyinggung perihal itu dan kini kucurahkan sekali lagi. Sebut saja itu sebagai bukti betapa putus asanya diri kita ini ketika menulis tulisan ini.

Kita telah mencapai masa akhir dari studi. Menghabiskan berminggu-minggu di hadapan laptop yang kita ambil dari orang rumah dan itu pula yang menjadi sumber rasa nyeri ini. Puluhan pekerjaan telah kita selesaikan, meski hampir tak satupun darinya yang menjadi pendukung untuk menuntaskan tiga tahun masa studi ini. Jujur, aku khawatir mengenai nasibku setelah ini, khususnya pada dua minggu ke depan.

Sebetulnya masih banyak yang hendak kutulis kepada dirimu. Namun rasa buntu yang kita telah kenal sejak lama itu lagi-lagi menghinggapi. Barangkali sekian kata ini tak begitu pantas untuk menggambarkan isi kepalaku secara adil, tapi yang sedikit ini semoga masih bisa tersampaikan.

Aku kehabisan kata-kata, kelabakan dengan waktu-waktu, dan menua dengan lebih cepat. Namun alih-alih bersama seorang kekasih, aku menua bersama rasa sendiri.

Aku harap kita berada dalam keadaan yang baik-baik saja ketika menilik kembali isi tulisan ini.



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram